Senin, 19 September 2011

Ramadhan, Puasa, dan Lebaran


SAYA TIDAK TAU PERSIS MANA YANG LEBIH BAIK antara ketiga hal itu. Ramadhan sebagai bulan bernuansa spiritual yang syahdu, puasa yang membentuk pribadi insan berwatak sabar, ikhlas, dan berbagi. Atau lebaran sebagai kultus hari raya yang melambangkan kesucian dan kemenangan. Semua adalah sebuah keutamaan yang memberikan kesan tersendiri. Terlebih sebagai muslim.

Meski demikian, ketiganya memiliki titik temu sebagai suatu garis biner. Hanya saja kita langka memaknai. Agama adalah hikmah, salah satu derajat bentukan tentang bagaimana cara kita memaknai ritus spiritual. Tanpa itu, hidup sebagai muslim ibarat padang kering tanpa air. Karenanya, agama menuntut pribadi sebagai religious man. Sebutan untuk pemeluk agama. Agar menjadi insan yang berkualitas dan terus belajar. Dalam Al Quran semua perintah selalu bertuju pada sebutan kualitas individu. Seperti Ya ayyuhalladzina amanu. 

Seruan pada ayat diatas ditujukan untuk orang-orang bersifat jamak, yakni termasuk individu beriman yang ada didalamnya. Banyak ayat di dalam Al Quran yang menuntut kita menjadi pribadi religius dalam artian selalu berupaya untuk berpikir dan taat melaksanakan perintah Allah SWT. Merasionalkan  agama dan merubahnya dari mitos kepada upaya mencerdasakan. Sebab banyak sekali ritus yang kurafat, mistis, dan irasional dalam agama yg sifatnya membodohi, seperti meminta pada kuburan, berdoa tanpa usaha, dan menerima takdir tanpa berikhtiar terlebih dahulu.

Agama adalah bagaimana seseorang menemukan dirinya sendiri. Taqlid dalam agama sangat dilarang, karena didalamnya tidak memiliki nilai pembelajaran. Juga terlepas dari pribadi muslim berkarakter.  Bahkan sebaliknya, Taqlid adalah simbol kebodohan. Berijtihad dengan ilmu akan mendapatkan pahala. Dengan demikian menjadi muslim berarti siap untuk mempelajari sebanyak mungkin ilmu. Agar kualitas diri semakin bertambah.

Penyair sufi asal Aceh, Hamzah Fansuri menyatakan dalam sajaknya bahwa dia mencari Allah di mana-mana, termasuk di Ka’bah. Tapi ternyata dia menemukan Allah di dalam dirinya sendiri. itulah kenapa sebabnya kualitas orang beragama selalu tergantung dari individu tersebut berusaha untuk mencari dan titik tolaknya adalah diri sendiri sebagai pribadi.

***

RAMADHAN MENGHANTAR KITA KEDALAM SUATU RUANG yang didalamnya terdapat bermacam figura bernuansa islami. Mulai dari tayangan televisi sampai kepada ragam ibadah dengan kelipatan pahala. Didalamnya seolah kita mendapatkan pengalaman spirit agama yang kental. Meski sering kali kita selalu lupa ketika Ramadhan berlalu. Iming-iming bulan pembinaan, hanya jadi momentum.

Biasanya kita lupa, bahwa sebenarnya Ramadhan itu hanya bulan persinggahan yang tidak selalu ada setiap waktu. Ia akan meninggalkan kita, atau kita yang meninggalkannya. Nuansa ramadhan juga tidak dapat djadikan tolak ukur, karena kebanyakan kita jarang sekali mengambil nilai-nilai dari esensi berpuasa setelah Ramadhan berakhir. Bahkan kita hanya mementingkan simbol artifisialnya saja. Seperti baju baru, hidangan berbuda sekaligus santap sahur, serta jalan-jalan ketika mudik.

Jika kita tinjau dari terapan syariat, Ramadhan sebenarnya tidak lebih istimewa dari bulan lain. Istilah bulan istimewa dalam islam adalah bulan haram. Institusi Arab pra-Islam yang melembagakan bulan tersebut untuk meredam pertumpahan darah yang kerap terjadi di jazirah tersebut. Bulan-bulan itu adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Pada bulan-bulan ini, setiap bentuk kekerasan dan peperangan dilarang.

Ramadhan menjadi penting karena momen Nuzulul Quran serta satu-satunya bulan yang disebut dalam Al Quran pada ayat yang sama. Namun, terlepas dari itu semua saya kira di zaman ini orang sudah mulai lupa bagaimana cara memaknai momen sakral tersebut.  Ramadhan hanya diisi dengan Ramainya acara televisi yang sama sekali tidak islami secara makna, hanya islami sebagai simbol.

Pada dasarnya menurut hemat saya, Ramadhan menjadi istimewa karena bentukan budaya kita. Secara majemuk kita merasa bahwa Ramadhan menjadi berbeda dari bulan lainnya karena disini orang bermai-ramai melakukan kebiasaan yang tidak rutin dilakukan di bulan lainnya. Sehingga kerasan sebagai momentum yang islami secara ritual. Padahal hanya sedikit sekali orang yg memanfaatkannya sebagai kesempatan taqarrab pada Allah.

Selebihnya masyarakat kita masygul menjalani Ramadhan dengan kebiasaan membakar petasan, meramaikan mall, serta sibuk menentukan waktu buka bersama. Tarawih kian hari mengalami pengurangan jamaah.

***

PUASA BUKAN IBADAH YANG BARU, dalam Al Quran disebutkan bahwa puasa telah juga dilakukan orang-orang sebelum islam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan, nabi Adam diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu.

Agama lain juga melakukan puasa. Pemeluk agama Yahudi misalnya, berpuasa selama 25 jam, pada hari kesepuluh Tishrei atau yang dikenal dengan hari Yom Kippur, setiap tahunnya. Demikian juga pemeluk agama Kristen Timur, yang berpuasa selama 40 hari sebelum perayaan paskah.

Meski demikian tujuan puasa bagi setiap agama berbeda-beda. Dalam islam, jejak arkeologis aya-ayat Al Quran puasa terdapat pada enam serial ayat yang mengandung perintah untuk melakukan ibadah tersebut.

Lima diantaranya merupakan ayat-ayat penalti. Yakni ayat-ayat yang mengatur hukuman bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan. Dua diantara ayat penalti ini berhubungan dengan ritual haji (Q. 2:196; 5:95), dua lainnya berkaitan dengan hubungan sosial: hubungan suami-istri (Q. 58:4) dan janji (Q. 5:89), serta satu berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan (Q. 4:92).

Menarik bahwa perintah berpuasa dalam kelima ayat tersebut selalu menjadi alternatif terakhir, dari satu atau dua opsi pertama yang jauh lebih sulit yang secara umum berkaitan dengan uang dan makanan. Yakni mengeluarkan sedekah dalam jumlah tertentu, membebaskan budak, atau memberi makan orang-orang miskin.

Dapat kita ambil hipotesis ayat-ayat tersebut, bahwa tindak berpuasa pada awalnya adalah suatu bentuk hukuman primordial, bagi seseorang yang tidak memiliki sarana apa-apa untuk menebus kesalahan yang ia perbuat. Ia adalah hukuman fisik orang pertama, yakni hukuman yang berasal dari kesadaran diri sendiri.

Agar membedakan dengan hukuman fisik orang kedua, seperti hukuman potong tangan, dan cambuk, yang memerlukan keberadaan orang kedua sebagai eksekutor pelaksanaan hukuman tersebut.

Atau hukuman non fisik, macam denda membebaskan budak, dan memberi makan orang miskin, yang semuanya bersandar pada uang dan harta yang dimiliki si terhukum. Singkat kata, dalam jenis hukuman primordial seperti puasa ini, hukuman diposisikan sebagai tindakan kesadaran diri sendiri untuk menebus kesalahan.

Lalu kenapa kita puasa di bulan Ramadhan ? dalam ayat-ayat Al Quran sebenarnya tidak ada kalimat tegas bahwa kita wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Hanya Pengenalan Ramadhan sebagai waktu untuk berpuasa, baru hadir di ayat 2:185, yang merevisi term hari-hari tertentu, ayyam ma’dudat, kemudian diteruskan dalam Hadits Nabi Muhammad  SAW "Datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan berkah, Allah azzawajalla mewajibkan kalian berpuasa pada bulan itu."

Dalam puasa Ramadhan, puasa dianggap sebagai sebuah media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin karena posisi puasa yang istimewa itulah, ayat tentang doa (Q. 2:186) diselipkan ditengah-tengah ayat tentang pewajiban puasa di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan “Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya”. Puasa adalah tindak beribadah yang sangat istimewa

Dalam konteks pelaksanaan ibadah puasa, yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan, banyak sekali menyimpan makna dalam konteks sosial. Hendaknya kita melakukan refleksi-esoteris dan kesadaran-eksoteris harus tumbuh sebagai manifestasi dari proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan yang berlangsung selama Ramadhan. Inilah sebuah proses yang oleh filosof Kierkegaard (1813-1855) disebut sebagai proses dari aesthetic stage menuju religious stage. Maksudnya, puasa bukan sekadar firman (perintah) yang bersifat personal, tetapi juga amal (aktualisasi) yang bersifat sosial.

***

TAKBIR BERGEMA, JAMAAH MULAI BERSIAP MENUJU LAPANG. Sementara itu umat islam bersahut meneriakkan takbir Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Tanda bahwa Lebaran sudah tiba. Senyum lebar menyisip di wajah, orang-orang sibuk bersilaturahim, permohonan maaf melenggang pada setiap kalimat. Bagi kita ini adalah suatu momen untuk saling menebus kesalahan. Dengan doa Taqaabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Pada budaya Indonesia Idul Fitri kita kenal dengan Lebaran. Namun kalau kita mau tarik tak terlampau jelas asal-usul kata “lebaran” ini. Ada yang berkata bahwa ia berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata “lebar” yang berarti “selesai”. Kemudian kata “lebar” diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan diberi akhiran “an”, sehingga menjadi kosa kata umum untuk sebuah perayaan setelah selesai menjalankan puasa.

Ada juga yang berkata, lebaran berasal dari bahasa Betawi, “lebar” yang berarti “luas”, yaitu keluasan hati seseorang setelah melakukan puasa. Orang-orang Madura punya kata yang mirip, yaitu “lober” untuk menggambarkan selesainya sebuah acara, yaitu puasa Ramadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lebaran akhirnya dimaknai sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul Fitri.

Terlepas dari itu, dalam konteks masyarakat Indonesia, lebaran selalu diikuti dengan mudik atau pulang kampung. Ribuan manusia bergerak dari kota ke desa untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta. Mereka tak peduli dengan harga tiket yang membubung tinggi, kesengsaraan di jalan karena berjubelnya manusia, hingga resiko kecelakaan yang kerap terjadi. Mudik lebaran menghipnotis banyak orang.

Pertanyaannya, mengapa orang begitu bersemangat untuk mudik ? Pertama, mudik dianggap punya makna spiritual juga kebudayaan. Setelah memohon ampun kepada Allah sepanjang bulan Ramadan, seseorang bermaksud meminta maaf terhadap orang tua, sanak saudara, dan tetangga di kampung. Dalam tradisi Jawa juga lebaran adalah salah satu ritus tahunan untuk sungkem pada orang tua. Juga mengunjungi kuburan para leluhur.

Kedua, menghadapi kompleksitas masalah di kota, seseorang kadang dihinggapi perasaan untuk kembali ke masa lalu saja. Ia seperti hendak melipat waktu, menuju ke masa kanak-kanak dan masa remaja. Ketiga, untuk membuktikan usaha bagi para perantau untuk berbakti rejeki bagi kerabat di kampung. Bayangkan selama mudik lebaran 2011 ini dana yang mengalir ke desa mencapai Rp 61 Triliun. Ini adalah bukti bahwa lebaran merupakan momentum berbagi rejeki sekaligus upaya distribusi pendapatan yang tersentralisir.

Kalau saja kita mau merenungi lebih jauh, sebenarnya lebaran dapat kita maknai secara multideimensi. Secara kultural lebaran dimaknai untuk halal bi halal yang tidak kita temukan di budaya manapun selain Indonesia. Secara teologis lebaran dimaknai sebentuk peristiwa iman, peristiwa yang dipercaya dan dinyatakan terkait dengan Sang Ilahi. Secara humanis lebaran dimaknai untuk bisa saling berbagi rejeki dan menjalin hubungan sosial yang rekat.

Saat ini, hampir sebulan selepas lebaran. Meninggalkan bulan Ramadhan. Serta tidak lagi berpuasa. Tapi sudahkan kita menerapkan nilai-nilai yang telah kita bangun selama sebulan penuh. Dekat dengan Allah. Rajin beribadah. Hati yang tenang. Serta momentum yang sakral. Hal yang terpenting bagi saya justru bukan pada Ramadhan dan lebaran. Tapi bagaimana kita setelah itu ? 
continue reading Ramadhan, Puasa, dan Lebaran

Jumat, 16 September 2011

Sore, Jakarta, dan Harapan

Meski sore menghentikan siang
dan memaksa matahari tenggelam

Rona pada Jakarta tidak terhenti
Ia tetap gagah dengan cakar yang melangit
Menjulang awan, menusuk ruang
Menyangga kota, di rongga jalanan

Kehidupan akan tetap ada, kawan
Melanjutkan sisa-sisa harapan
yang belum sempat kita gapai bersama

Hamzah Ichwal
Jakarta 16 September 2011


continue reading Sore, Jakarta, dan Harapan

Rabu, 24 Agustus 2011

Sate Afrika, Bukan Sate Biasa


Suatu minggu saya berkesempatan mencicip hidangan ala Afrika yang kesohor itu. Letaknya di tepi Jalan KS Tubun. Tepat disamping Mesuem Tekstil Jakarta. Mencari alamat resto ini agak sulit, karena letaknya tidak persis di samping jalan. Masuk kedalam kompleks pertokoan.

Awalnya saya hanya terbawa rasa penasaran. Kemudian coba mengajukan pertanyaan. Apa beda Sate Afirika dengan Sate Madura ? Dari situ kemudian saya berniat sesekali waktu pergi untuk merasakan seberapa nikmat hidangan khas Afika itu.

Sate Afrika boleh jadi merupakan satu-satunya tempat makan khas Afrika di Ibukota Jakarta. Perintis usahanya adalah Haji Ismail, pria asal Mali, sebuah negara bekas koloni Perancis di sub-Sahara, Afrika Barat. Ia Merintis usaha tersebut semenjak tahun 1999.

Ia masuk Indonesia tahun 1997. Siapa sangka pria yang sukses dengan Sate Afrika ini adalah seorang yang awalnya berdagang sandal jepit selama satu tahun. Kemudian ia berpikir untuk berbisnis kuliner karena belum ada orang Afrika yang dagang makanan.


Semula, pengujungnya kebanyakan orang Afrika, sekarang orang Indonesia lebih banyak. karena banyak yang merasakan cocok dengan rasa Sate Afrika. 

Warung itu sesungguhnya tanpa nama. Sate Afrika merupakan nama yang tersebar di antara pelanggan, kemudian terlanjur terkenal. Meski disebut sate, jangan bayangkan masakan Ismail itu seperti sate dalam arti yang umum.

Sate atau satai dalam leksikon kuliner Indonesia adalah irisan daging kecil-kecil yang ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap. Sate Ismail Coulubally tidak ditusuk, tidak diberi bumbu kacang atau kecap.



Domba yang dipakai adalah domba betina, berusia satu sampai dua tahun dengan berat badan maksimal 20 kilogram. Domba-domba itu dipesan dari Cipanas, Jawa Barat. Ismail memesan dua sampai tiga ekor domba setiap hari.

Bumbu Sederhana

Dalam mengolah masakannya, Ismail tidak menggunakan banyak bumbu. Meski begitu satenya terasa empuk, garing, dan gurih. Rasa dagingnya menonjol. Menurut salah seorang karyawan tempat itu, bumbunya hanya penyedap rasa dan garam.

Ismail juga menyediakan sambel lampung yang dicampur dengan mustard. Orang bisa mencocol potongan daging dalam sambal yang dicampur mustard tersebut. Namun tanpa dicocol sambal pun rasa satenya sudah makyus.

Proses pengolahannya tergolong sederhana "Pertama, daging dipotong-potong dalam ukuran besar, lalu dibakar di atas bara sampai hampir matang," kata Ismail.

Selanjutnya, daging diungkep dalam panci. "Tidak pakai air atau minyak. Nanti minyak dagingnya keluar sendiri. Itu sekitar 20 menit. Minyak itu dibuang. Jadi kolesterolnya mati (tidak ada). Makanya, makan makanan saya tidak akan kolesterol atau darah tinggi karena minyaknya sudah dibuang. Ketika memotong daging, lemak-lemaknya juga kami buang," katanya.

Setelah diungkep, daging dipotong-potong kecil kemudian dibakar sampai matang. Selama proses itu, lemaknya terus keluar. Potongan daging lalu dimasukkan ke dalam panci kecil, ditaburi garam halus, penyedap rasa serta irisan bawang bombay mentah. Panci digoyang-goyang agar garam dan penyedap rasa tersebar merata. Kemudian daging dibungkus pakai aluminium foil dan ditaruh di atas tungku pembakaran yang masih panas. Kalau ada pelanggan, bungkusan tinggal dibuka, daging disuguhkan.

Pilihan menu ada dua macam, sate daging atau jeroan. Sate daging seporsi harganya Rp 35.000 sementara jeroan Rp 30.000.


 
continue reading Sate Afrika, Bukan Sate Biasa

Senin, 22 Agustus 2011

Redefinisi Kuliah

Belajar di perguruan tinggi (PT) merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang meyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut. Namun, realitas yang dihadapi oleh stakeholder pendidikan tinggi dalam banyak hal jauh dari harapan. Perilaku mahasiswa dan dosen dalam belajar-mengajar belum menunjukkan atribut yang seharusnya melekat pada individual yang mendapat sebutan sebagai akademisi. Salah satu faktor yang menciptakan kondisi seperti ini adalah kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen, dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi. Akhirnya, mengakibatkan proses pembelajaran tersebut kurang menyentuh esensi keilmuan sebagai suatu hal yang harus diarahkan pada karya mahasiwa-dosen yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, belajar merupakan hak dan kewajiban setiap insan. Akan tetapi, kegiatan belajar di PT dapat dikatakan privilege, karena mereka punya tanggung jawab sosial lebih di tengah masyarakat. Privilege yang melekat tidak hanya terletak pada sarana fisik, status kemahasiswaan, dan sumber daya manusia yang disediakan. Dengan pengakuan tersebut, harapannya bahwa seseorang akademisi yang telah mengalami proses belajar secara formal akan mempunyai wawasan, pengetahuan, keterampilan, kepribadian, dan perilaku akademis yang ingin dituju oleh lembaga pendidikan, mengarahkan mereka pada kebijaksanaan bersikap dan berfikir. Selain itu, perguruan tinggi sebagai pusat keilmuan dapat berperan maksimal dalam pembangunan bangsa.

Idealnya, karena seseorang mendapat privilege belajar di PT, seseorang dituntut untuk berbuat lebih dari sekedar kuliah. Mereka yang belajar di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempunyai keterampilan teknis tetapi juga mempunyai daya dan kerangka pikir/nalar serta sikap mental, kepribadian, dan kearifan tertentu, sehingga menurut Mochtar Buchori, mahasiswa memiliki pengetahuan luas, kecerdikan, tilikan, dan kemampuan mencerna pengalaman hidup. Selain itu, kemampuan penalaran (reasoning) juga merupakan bagian penting dari bekal tersebut guna mendukung terciptanya pribadi yang mempunyai integritas, dan merespon setiap permasalahan lingkungan masyarakat dengan kepedulian.

Dari privilege tersebut, dapat dikatakan bahwa mereka yang berstatus mahasiswa sebenarnya tidak berbeda dengan mereka yang belajar tidak melalui lembaga pendidikan formal, kecuali pada status pemegang kartu tanda mahasiswa. Kemudian, berbicara pada proses dan hasil pembelajaran di PT yang belum secara signifikan mencerminkan kualitas penalaran, penelitian, dan pemahaman mahasiswa tercermin dari perkuliahan di ruang kelas, forum diskusi, dan kompetisi mahasiswa. Jika demikian, bisa jadi pada saat mahasiswa lulus dari PT hanya bertambah atribut, tanpa nilai tambah sosial di tengah kemasyarakatan.

Tujuan Belajar

Terdapat dua tujuan yang terlibat dan saling menunjang dalam proses belajar-mengajar di perguruan tinggi. Pertama, tujuan lembaga pendidikan dalam menyediakan sumber pengetahuan dan pengalaman belajar. Kedua, tujuan individual dari mahasiswa tersebut. Proses belajar mengajar mestinya harus mampu meyelaraskan tujuan indivisual dan tujuan lembaga pendidikan, disamping itu keduanya harus diselaraskan dalam mengemban misi pendidikan nasional. Jangan sampai kesenjangan antra kedua tujuan tersebut membentuk stigma yang tidak seimbang, akhirnya mahasiswa-dosen berfikir amat pragmatis, bahwa belajar utnuk sebuah legalitas saja.

Kemudian, gejala yang sering dirasakan bahwa belajar di PT cenderung mengarah pada kebutuhan sosial yang pragmatis, dalam arti kata merasa berbeda status ditengah strata sosial masyarakat, dari pada berfikir kebutuhan pengetahuan dan pengalaman belajar. Kebutuhan sosial ini biasanya datang dari keluarga yang menjadikan tujuan pendidikan PT tidak lebih dari meraih gelar sarjana, tanpa dilandasi dengan kebutuhan pengetahuan dan pengalaman belajar, akhirnya belajar di PT dianggap mahasiswa sebagai beban, siksaan, percobaan atau penderitaan (ordeal). Bukan dianggap sebagai kebutuhan untuk pengembangan dan pematangan sikap.

Kesalahan persepsi ini akan menghasilkan suatu sikap dan semangat belajar yang pragmatis, hanya berorientasi pada nilai dan atribut legalitas. Senang bila dosen tidak ada, tapi tidak berfikir untuk mencari alternatif lain dengan membaca buku di perpustakaan. Bangga dapat nilai tinggi, walaupun hasil nyotek. Menjiplak tugas teman atau buku tanpa tahu isi dan dibaca terlebih dahulu. Hal-hal seperti ini adalah gejala yang kurang sehat dalam iklim akademis akibat dari dangkalnya orinentasi belajar. Untuk itu perlu adanya pembenahan tujuan belajar dengan meluruskan kembali orientasi tersebut menjadi kesadaran berfikir, bahwa tujuan belajar bukan hanya mengedepankan aspek individu.

Redefinisi Kuliah

Kuliah merupakan kegiatan yang membedakan pendidikan formal dan nonformal. Namun, hal yang perlu dicatat adalah bahwa kuliah bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan satu-satunya kegiatan belajar. Arti kuliah umumnya diperoleh mahasiswa bukan karena kesadarannya tentang arti kuliah yang sebenarnya, tetapi karena pengalamannya dalam mengikuti kuliah, ironisnya pengalaman tersebut terlanjur membentuk paradigma yang salah tentang kuliah itu sendiri. Kesan yang keliru akan mengakibatkan adanya kesenjangan persepsi tujuan antara lembaga pendidikan, dosen, dan mahasiswa sehingga proses belajar-mengajar yang efektif menjadi terhambat.

Perlu dipahami pula bahwa pola belajar di PT dapat dikatakan lebih mandiri, dengan kata lain mahasiswa dituntut untuk mengetahui lebih banyak dari apa yang disampaikan oleh dosen. Oleh karena itu, pencitraan dosen sebagai satu-satunya media transfer ilmu pengetahuan dalam perkuliahan mesti diubah. Kemudian didefinisiskan kembali, bahwa kuliah merupakan ajang konfirmasi pemahaman terhadap ilmu pengetahuan sebagai hal yang harus ditelaah lebih dalam dan dikorelasikan kembali dengan aplikasi nyata kehidupan sebenarnya. Dengan begitu penulis yakin fenomena “we learn anything about nothing” pada mahasiswa yang datang kuliah kemudian duduk, dengan, catat, lalu pulang dengan pikiran kosong akan berakhir.

Hal lain yang harus dikritisi adalah paradigma nilai perkuliahan yang seolah mencerminkan cerahnya masa depan, karena katanya akan mudah mencari kerja. Dengan begitu mahasiswa pun rela melakukan apa saja demi nilai bagus, meskipun harus nyontek. Padahal, yang harus menjadi orientasi dalam proses perkuliahan adalah kompetensi. Di sisi lain, paradigma nilai yang disalahartikan juga telah menyalahi fungsi seharusnya yaitu mengukur keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari bidang ilmu tersebut dan sekaligus sebagai alat evaluasi. Seharusnya, nilai bukanlah suatu tujuan tetapi lebih merupakan suatu konsekuensi logis dari apa yang dilakukannya selama mengikuti proses belajar.

Dengan kondisi budaya belajar yang menyimpang dari tujuan, tugas PT adalah mengubah secara radikal budaya menyimpang tersebut. Kesan keliru tentang arti kuliah dan belajar dapat diubah bila perguruan tinggi menciptakan citra baru melalui pembelajaran alternatif dengan kesadaran berproses untuk belajar. Tidak sepantasnya PT mengikuti selera mahasiswa atau masyarakat yang keliru. PT mesti mengahasilkan generasi penerus yang dapat mengubah masyarakat yang keliru untuk lebih baik. Menurut Hall dan Cannon (1975), fungsi perguruan tinggi tidak hanya memberi keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja, tetapi lebih dari itu memberi wawasan, visi, kearifan, daya inovasi, daya belajar cepat dari situasi, daya nalar kritis, dan kepribadian yang integral.
continue reading Redefinisi Kuliah

Ruang Imanen

Di ruang itu lamunan orang berubah jadi mimpi 
Tentang nilai yang entah berujung apa ?

Bung, mari kita menikmati proses, 
Meski orang kata itu uang, Bagi kita semisal derita
Namun kehendak mereka berbeda simpul
Pendapat tidak perlu sama, bukan ? 
Berkacalah pada alam yang serasi meski tidak seragam 

Kadangkala hari-hari menepi di pendakian hidup
Ramai bersahut senyum, ranum diterik emosi
Orang lain tak akan pernah tau siapa kita
Juga dunia yang semakin sulit ditebak arahnya
Kadang kompas dibuat bingung menavigasi petunjuk

Figura dinding sedikit miring ke barat, hampir jatuh
Diatas sapu ijuk yang bersandar ke utara 
Ruang itu gelap, hanya sepancar sinar yang masuk
Karena loteng yang bolong, dan jendela yang kusam.
Biarlah tetap menjadi gelap agar tidak terbakar matahari 

Atap-atap langit kita bernoda 
itu akibat jejak air yang memaksa masuk saat hujan
dan kita anggap hujan itu rezeki, 
Rahmat yang turun dari langit oleh Tuhan
Walauppun pada kenyataannya kita tetap saja miskin

Di ruang itu, lapar menjadi teman baik kita membaca
Tempat kita membentangkan karpet untuk tidur malam
dan bertapa pada imanensi pikiran yang jauh
Lantas, seberapa lama kita bisa ada. Mengisinya lagi.
Seperti sedia kala. Saat aku baru saja mengenal tujuan


Hamzah Ichwal,
Menteng 25 Agustus 2011


continue reading Ruang Imanen

Cerita Dibalik Tulisan “Demokrasi dan Kekecewaan”: Eksotika Analitik terhadap Perjalanan Sejarah Politik Indonesia


Dalam tulisan tersebut saya seolah diberikan penyadaran batin, bahwa politik adalah sesuatu yang tidak akan ada habisnya mengecewakan banyak orang. Apapun bentuknya, politik tetap saja mengorbankan rakyat yang nelangsa. Karena ulah pemeran antagonis. Sampai pura-pura bersolek dengan janji muluk tanpa realisasi.

Sekedar bercerita, setiap kali saya membaca tulisan Gunawan Muhammad (GM) selalu saja memberi suatu inspirasi baru di benak pikiran. Kadang seketika itu juga kedua jari saya berdetik dalam keypad handphone yang tak sabar menunggu loading karena ingin segera up date status via “snaptu” perihal internalisasi ide beliau. Ada makna yang menerjemahkan peristiwa, kadang mengajak kita berdialog lewat setiap gagasan yang ia cetuskan. Maklum mungkin karena “sepak terjang” bacaan dan referensi GM sudah matang, beragam, dan membumi dengan dirinya barangkali. Terlebih karena dia wartawan senior yang sudah tidak asing dengan dialektika pemikiran manapun. Dari pemikiran kir ke kanan, atau ilahiah sampai ke pergolagakan filosofi keagamaan. Nikmat didalami.

Selain itu, diksi yang saya resapi sangat sastrawi. Tidak terlalu kaku dengan beban ide yang ia suguhkan. Walau kadang saya sendiri bingung memaknainya. Terlampau tinggi untuk kadar konfigurasi bahasa. Bagi saya, saripati tulisan merupakan bunga dari sebuah lamunan filsafat setelah adanya proses membaca, berpikir, dan menyesuaikan. Membaca sebagai aktivitas input, berpikir sebagai proses pencarian makna, dan menyesuaikan sebagai upaya pembuktian. Agar lebih rasional dan dekat dengan kenyataan sebenarnya. Itulah kaitan yang tak pernah habis dalam proses belajar. Terutama kita sebagai mahasiswa yang bergelut dengan banyak problem, dari berita ke berita. Sampai pada gagasan.

Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama GM adalah pemikiran monodimensional. Ia seorang yang mengisi setiap letupan dialektika dengan beragam pemikiran. Sampai-sampai di “twitterland” ia sering berbagi sumber bacaan atau referensi yang sedang ia baca. Bisa dibilang ia adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka terhadap berbagai hal. Tapi kalau dikerucutkan ia sangat toleran sekali dengan isu humanistik sebagai sifat dan humaniora sebagai dunianya.

Dalam tulisan “Demokrasi dan kekecewaan” yang beliau sampaikan di Pidato untuk Nurcholish Madjid Memorial Lecture II pada tahun 2009. Substansinya mengerucut pada dalih bahwa demokrasi yang berguling sepanjang masa pada akhirnya banyak berujung nestapa. Terutama dalam pergulakan politik di Indonesia “dari masa ke masa” atau “dari transisi ke transisi”. Entah demokrasi parlementer, terpimpin, sampai reformasi. Sama saja. Belum bisa membuat bangsa ini keluar dari penderitaan rakyatnya. Tetap berputar dalam ruang gerak “lingkar setan kemiskinan”. Kemudian dari situ ia mempertanyakan demokrasi sebagai suatu konsep, apakah masih bisa dipertahankan ? kalau iya dalam dimensi dan bentuk yang seperti apa ?

Saya bersama tulisan ini ingin menjawab. Tentu dengan kapasitas saya sebagai seorang mahasiswa yang “minim ilmu”. Jadi maaf saja kalau belum begitu komprehensif. Sebenarnya pemikiran demokrasi yang berkembang pada awalnya mulai diperkenalkan 2.500 tahun lalu di Athena, Yunani. Dalam sejarahnya demokrasi demokrasi amat disakralkan, karena ia konon lahir dari sebuah revolusi berdarah-darah umat manusia melawan kedzaliman, praktik otoritarian. Yaitu upaya reaksioner kaum filsuf, cendekiawan dan rakyat nasrani yang ditindas para kaisar di Eropa yang disahkan pihak gereja. Sejarah yang kemudian didramatisir ini lalu dianggap sebagai sebuah pencerahan (renaissance) umat manusia dari kegelapan (aufklarung/dark ages).

Demokrasi juga dianggap sebagai ideologi suci anti tiran dan kediktatoran. Ia dianggap sebagai suara rakyat. Slogannya; dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Atau demokrasi itu adalah perwujudan dari spirit liberte, egalite, fraternite (kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan). Melawan demokrasi berarti melawan suara rakyat, dan suara rakyat itu adalah kebenaran. Dengan gegabah para pendukung demokrasi sesumbar suara rakyat adalah suara tuhan (vox populi, vox dei).

Padahal antithesis dari eloknya demokrasi juga banyak “korengnya” Tragedi Tiananmen di Cina yang menelan banyak korban mahasiswa pro-demokrasi, atau lebih terkesan dengan Aung San Su Kyi di Birma. Juga peristiwa reformasi 1998 di Indonesia yang banyak menelan ribuan korban sipil juga mahasiswa. Lalu kemudian saya berpikir, apa yang salah ? demokrasi atau perangkatnya ? karena perenungan saya mengatakan bahwa demokrasi bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia dijalankan oleh perangkat yang menjadi “rider” bergulirnya suatu tatanan yang mengatur. Sejarah mengatakan bahwa sistem demokrasi bergulir fluktuatif, “dari baik ke buruk” dan “dari buruk ke baik”. Tapi banyak yang prosesnya seperti ini “dari buruk ke baik kemudian buruk lagi”. Tidak lain manusialah yang berperan dalam turu-naik tersebut.

Menjawab pertanyaan diatas, yang salah dari “borok” demokrasi adalah perangkat dari sitem yang menjalankan. Karena itu tujuan demokrasi sebagai konsep mengembalikan kehendak rakyat tidak tercapai. Akhirnya seperti dalam bahasan GM ditulisan itu mengatakan “otokrasi politik” yang mengangkangi akses bagi rakyat untuk mendapatkan haknya meraih kesejahteraan. Kekuasaan tidak lebih dari olok-olokan sampah yang kalau saya tidak salah baca di dalam sejarah pemikiran sosialis dianalogikan sebagai pihak yang “tidak mampu mengolah karya rakyatnya”. Bahan baku, pajak, dan kerja keras menjadi sia-sia kalau pemerintah tiran. Tidak mampu dengan baik mengolah dengan etos baik. Malah alih-alih membudaki rakyat dengan kebijakan pro-asing.

Jadi, untuk kesimpulan yang pertama sesi tulisan ini saya hanya mau menyimpulkan hal yang sederhana saja. Menjawad pertanyaan GM. Demokrasi sebagai suatu konsep, apakah masih bisa dipertahankan ? kalau iya dalam dimensi yang seperti apa ?Begini, GM dalam tulisan itu menjabarkan dalam “jalan buntu” atau istilahnya “kurva lonceng” yang artinya politik yang tidak kemana-mana, stagnan. Mendobrak sebuah solusi bahwa politik harus dikembalikan kearah “perjuangan” seperti apa yang diupayakan pada masa kebangkitan nasional, kita satu dalam pergerakan memerangi penjajahan. Seperti adanya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Selebes, Jong Islamicten Bond, Pemuda Betawi, Jong Ambon pada akhirnya menjadi “pemoeda indonesia”.

Konteks tersebut kalau diproyeksikan kemudian di zaman sekarang menjadi sulit. Pasalnya orientasi kebangsaan menjadi pudar dan terkotak-kotak dalam orientasi golongan, etnis, dan suku masing-masing. Titik temu tersebut baru ada ketika bangsa ini dirundung masalah besar, dan itu belum terlihat. Kerikil kecil malah dianggap sepele. Sulit untuk dipersatukan karena masing-masing punya kepentingan. Pemersatu kita saat ini hanya “bahasa” dan asas “bhineka tunggal ika”. Kalau itupun pudar karena globalisasi saya tidak tahu apa tumpuan berikutnya.

Kembali lagi. Mari memulai jawaban dari pertanyaan GM. Dalam benak saya, demokrasi bukan saja sekedar “perjuangan”. Ia adalah integrasi dari perpaduan ide, pergerakan dan perangkat kepemimpinan atau yang kita sebut sebagai pemerintah. Perjuangan adalah upaya dalam konteks ikhtiar kenegaraan mewujudkan dimensi mencapai tujuan-tujuan tertentu. Saya mengindikasikan begini. Pertama, Ide adalah gagasannya, dari sini muncul kemudian seperti apa bentuk pemerintahan nanti seperti visi dan misi serta sistem ketatanegaraan. Kedua, Pergerakan sebagai kerangka tahapannya yang coba mengatur proses demokrasi itu berjalan. Ketiga, Sedangkan untuk perangkat pemerintah adalah motor atau pelaku yang menjalankan, ada elemen masyarakat sebagai sipil yang diatur untuk turut mewujudkan demokrasi ideal.

Jadi kesimpulannya dalam posisi yang seperti apa demokrasi bisa dipertahankan adalah jawabannya terdiri dari konteks keterkaiatan tiga hal tersebut. Pada dasarnya saya hanya mencuruhkan apa yang saya pikirkan saja. Demokrasi sebenarnya sengaja dipertahankan sebagai sistem pemerintahan karena sudah terlanjur dijalankan, pilihannya hanya itu. Meski kita tahu bahwa demokrasi belum bisa membawa bangsa ini sedikit baik dengan kualitas hidup rakyat yang sejahtera. Lalu kemudian nantinya bagaimana, demokrasi hanya berubah sesuai kodratnya, ada transisi dan peralihan. Pada saat itulah kemudian demokrasi bias menjadi baik atau bahkan semakin buruk. Tergantung dari pemimpinnya. Dan sekarang bangsa ini belum punya pemimpin sekaliber Umar bin Khattab yang bias mengerti kondisi rakyat untuk kemudian menyelesaikannya secepat mungkin. Seperti kisah seorang ibu kelaparan yang merebus batu untuk anaknya, kemudia diketahui Umar untuk kemudian diberikan makanan saat itu juga.

****

Disini, bagian tulisan kedua, saya pisahkan antara jawaban dialektis saya dengan tanggapan atau letupan ide GM. Kita mulai dari “kekecewaan terhadap parlementer” saya sebut sebagai kesadaran kritis terhadap kondisi saat itu. Dari demokrasi parlementer, kemudian diruntuhkan ke demokrasi termpimpin, lalu beralih transisi ke demokrasi orde baru. Barulah reformasi memulai perjalannya. Menarik sekali seperti serial “ludruk” Jowo. Cerita yang mengilhami banyak pemikir untuk menganalisis penyebab kejadian demi kejadian. Tapi yang tetap ada pada setiap transisi lagi-lagi adalah “kekecewaan”.

Letupan lain dari pemikiran di tulisan itu adalah analogi “sang antah” yang diambil dari teori Lacan disebut sebagai le Reel (dalam versi Inggris, the Real). Dengan itu sebenarnya ditunjukkan satu kekhilafan utama dalam pemikiran politik demokrasi yang mengasumsikan kemampuan “representasi”. Pengertian “representasi” dimulai dari ilusi bahasa, bahwa satu hal dapat ditirukan persis dalam bentuk lain, misalnya dalam kata atau perwakilan. Ilusi mimetik ini menganggap, semua hal, termasuk yang ada dalam dunia kehidupan, akan dapat direpresentasikan. Seakan-akan tak ada Sang Antah.

Disambut dengan teori “demokrasi radikal” yang diperkenalkan Laclau dan Mouffe, dengan menggunakan pandangan Gramsci, maupun oleh pemikiran politik dengan militansi ala Mao dalam pemikian Alain Badiou, kita ditunjukkan bahwa sebuah tata masyarakat, sebuah tubuh politik, adalah sebentuk scene yang tak pernah komplit. Senantiasa ada yang obscene dalam dirinya, bagian dari Sang Antah, yang dicoba diingkari. Maksudnya bila dikatakan bahwa demokrasi adalah “mewakili rakyat” faktanya tidak begitu. Saat ini, demokrasi hanya milik partai politik yang tidak sama sekali representatif. Mereka bukan kepentingan rakyat, orientasinya kekuasaan.
continue reading Cerita Dibalik Tulisan “Demokrasi dan Kekecewaan”: Eksotika Analitik terhadap Perjalanan Sejarah Politik Indonesia