Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Maret 2014

Manusia Kampus, Manusia Belajar



Judul                          : Manusia Kampus, Potret Kultural Mahasiswa UNJ
Penulis                      : Lembaga Kajian Mahasiswa
Penerbit                    : Pustaka Kaji
Catakan                    : I, Maret 2014
Tebal                          : xx + 83 Halaman
ISBN                          : 978-602-99700-6-7




Sudah dari dulu saya ingin menuliskan sebuah buku tentang kritik pada pembelajaran di ruang kelas. Entah karena pengalaman pahit dihardik guru karena tidak bisa mengerjakan soal, atau karena saya sendiri merasakan bahwa ruang kelas bukan tempat terbaik bagi saya untuk belajar. Tidak banyak hal yang saya dapat dari kelas dan sekolahan selain kebekuan pada proses belajar. Selebihnya saya belajar sendiri dan dengan kerja keras saya sendiri.

Mungkin buku ini gambaran bahwa dunia akademik telah berubah jadi ruang yang membosankan. Kampus menjadi ajang yang mereduksi nilai-nilan pendidikan. Mahasiswa tidak diberikan pilihan selain mengekor pada pola ajar yang absolut—mahasiswa salah jika mengkritik dosen, tidak diberikan ruang untuk berkreativitas, dan tidak diarahkan pada prakarsa penelitian. Hal itu membuat sebagian mahasiswa yang ingin benar-benar belajar mencari alternatif lain.

Sebagian mahasiswa menjadikan organisasi sebagai sarana belajar, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berhasil meraih prestasi. Sebagian yang lain menganggap organisasi adalah ruang untuk menunjukkan aspirasi dan kreativitas. Ada juga yang menganggap bahwa organisasi adalah tempat melatih bakat dak hobi. Ya, organisasi bisa dijadikan tempat alternatif untuk mendapatkan nilai tambah di luar ruang kelas.

Organisasi tidak lain adalah sebuah komunitas. George Herbert dalam antologi tulisan The Philosophy of Education menyinggung kegiatan belajar pada lingkup komunitas. Ia mengatakan bahwa kehidupan intelektualitas yang tercermin dalam sebuah komunitas adalah efek dari proses induksi pada individunya. George pertama-tama meletakkan proses belajar sebagai kegiatan yang komunal dan dibangun dari individu-individu yang ada di dalamnya.

Dalam komunitas, pembelajaran bisa bersifat sederajat, tidak memandang angka sebagai indikator penilaian—dengan serta merta pula tidak ada kasta pintar dan bodoh, semua berperan untuk saling belajar dan mengajar. Karena itulah pembelajaran menjadi semakin hidup. Proses mencari pada dasarnya akan kembali pada di pribadi dan dunianya.

Selain itu, pembelajaran lewat organisasi dan komunitas menganut prinsip equality, hal
itu sesuai dengan cita-cita pendidikan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan hak dan kesempatan untuk maju bersama. Apalagi nilai persamaan selalu beriring dengan nilai kebersamaan. Terkadang tidak ada guru, semua menuntut untuk aktif, semua berperan sebagai guru bagi dirinya sendiri. Tidak ada penghakiman bagi mereka yang tidak bisa mengerti atau lambat dalam proses belajar. Tidak seperti di kelas, pembelajaran seperti hantu yang menakutkan. Sedikit berbuat salah bisa berujung pada hukuman.

Buku ini adalah gambaran dunia kampus dan organisasinya. Dengan buku ini pembaca dapat mengetahui apa saja yang dilakukan mahasiswa di kampus. Mulai dari kegiatan organisasi, sampai kepada kongkow ala mahasiswa. Gunanya adalah mengambil nilai positif dari setiap aktivitas.  
continue reading Manusia Kampus, Manusia Belajar

Jumat, 14 Maret 2014

Ketika Modernitas Mati di Tengah Kota


Judul                          : Endemik Modernitas, Polemik Pembangunan Jakarta
Penulis                      : Lembaga Kajian Mahasiswa
Penerbit                     : Pustaka Kaji
Catakan                     : I, Maret 2014
Tebal                          : xxii + 125 Halaman
ISBN                           : 978-602-99700-36


Modernitas identik dengan pembangunan. Lalu apa yang terjadi ketika pembangunan telah berubah menjadi sabotase di ruang-ruang perkotaan? Menyingkirkan semua bentuk yang dianggap tidak estetik, tidak rapih, dan tidak komersil. Sehari-hari yang kita temui adalah sebuah fenomena menggusur kaum marjinal di perkotaan untuk digantikan dengan mesin-mesin ekonomi, agar menghasilkan pertumbuhan, bukan kesejaheraan.

Kota telah berubah dari masa ke masa. Perubahannya tentu saja berlajan di atas serangkaian rancang pembangunan. Modernitas adalah produk kemajuan yang dianggap paling ampuh mengobati penyakit kehidupan. Sayangnya abstraksi modernitas dipahami hanya sebatas fisik, gedung-gedung tinggi, pabrikan, dan perkantoran. Lalu  bagaimana dengan manusianya? Seringkali pembangunan di era modern mengabaikan aspek bagaimana manusia hidup.

Lain halnya dengan analisis Marx dan Durkheim yang melihat bahwa modernitas sebagai suatu masalah yang rumit. Keduanya malah menganggap bahwa modernitas merupakan suatu era industri—yaitu wabah kapitalisme. Pada satu sisi memberi nilai tambah ekonomi, tapi disisi lain berdampak kerusakan. Kota menjadi lahan dimana kerusakan itu terjadi.

Kota dipaksa menjadi mesin bagi kemajuan modernitas. Maka kota, sebagaimana disebutkan Marco Kusumawijaya dalam bukunya Kota Rumah Kita, tak ubahnya metropolis—tempat bagi terjadinya proses modernisasi yang paling intensif, baik dalam arti konsentrasi maupun besaran, bila dibandingkan dengan lingkungannya. Metropolis bukanlah suatu tipologi planologis yang direncanakan dan harus dihindari maupun dijadikan tujuan, melainkan suatu kondisi objektif yang merupakan dampak logis dari modernitas.

Sebenarnya modernitas adalah proses yang vital bagi kemajuan kota, jika dikelola di bawah realitas humanisme. Modernitas juga dianggap sebagai model paling ampuh dalam prototype kota masa depan. Tapi lihatlah saat ini, pembangunan hanya menjadi simalakama. Pembangunan jadi proyek korupsi anggaran. Pembangunan menggusur rumah rakyat jadi mall. Pembangunan juga merobohkan pasar tradisional jadi supermarket. Lalu dimana tempat keberpihakan pembangunan bagi rakyat kecil?

Buku berjudul Endemik Modernitas ini adalah potret sebuah polemik pembangunan di Jakarta. Penulisnya adalah sekelompok mahasiswa dari LKM UNJ. Gaya tulisan dalam buku ini dibuat dengan gaya feature. Lebih terlihat seakan sebuah laporan jurnalistik ketimbang buku popular.

Dalam pembuatan buku ini, mahasiswa melakukan peliputan berbulan-bulan lamanya, menjaga hubungan dengan tempat yang dijadikan objek liputan. Menemui nara sumber dan memahami masalah di lapangan. Ini merupakan pengalaman baru bagi mahasiswa yang biasanya berdiam di rungan kelas yang beku.

Pengambilan objek liputan juga sepenuhnya inisiatif dari mahasiswa. Hanya pada temanya diskusi dilakukan secara intensif. Buku ini merupakan sebuah jawaban dari keresahan yang dialami oleh para mahasiswa yang kuliah di Jakarta. Melihat fenomena pembangunan yang destruktif, mahasiswa ini melakukan suatu tindakan berupa rekaman tulisan.

Buku dengan tema perkotaan ini patut dibaca oleh kalangan umum, baik masyarakat kota Jakarta ataupun bukan. Buku ini juga baik untuk sarana membangun wacana kritis bagi kebijakan pemerintahan Jakarta di bidang tata kota, sosial, ekonomi, moral dan lingkungan. Harapannya ke depan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan sebagai sarana untuk keterwakilan civil society agar tidak dirugikan.
continue reading Ketika Modernitas Mati di Tengah Kota

Kamis, 13 Maret 2014

Sebuah Kisah di Pusaran Landmark Jakarta

Judul                         : Landmark Jakarta, Relasi Sosial dan ruang Publik
Penulis                      : Lembaga Kajian Mahasiswa
Penerbit                    : Pustaka Kaji
Catakan                     : I, Maret 2014
Tebal                         : xxii + 220 Halaman
ISBN                          : 978-602-99700-4-3




Mungkin banyak orang yang bertanya apa itu landmark? Sebenarnya istilah ini seringkali muncul pada disiplin ilmu arsitektur. Dalam buku karangan Kevin Lynch berjudul The Image of The City—sebuah buku yang mengulas habis bidang arsitetur dan planologi—landmark berarti sebuah tempat, monumen, taman, ataupun patung yang merefleksikan sejarah dari kota di mana ia dibangun.

Sejarah suatu kota tidak bisa dilepaskan dari citra yang ditampilkan oleh kota itu sendiri. Prosesnya berjalan sampai pada persepsi masyarakat atas citra kota. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kota pada dasarnya adalah relasi antara citra yang ditampakkan melalui landmark dan relasi sosial dari masyarakat di dalamnya. Sehingga menjadi sinergi timbal balik.

Lalu apa fungsi landmark? Sehingga ia menjadi penting? Sebenarnya yang penting bagi landmark bagi sebuah kota adalah makna yang ditangkap oleh penghuninya. Bila kota sudah tidak lagi memiliki makna bagi penghuninya, maka semua apa yang terjadi di atas sebuah kota tidak lagi manusiawi. Seperti kota yang penuh sampah, kemacetan dimana-mana, banjir yang tidak juga surut, serta kaum marjinal yang terlantar.

Kehidupan kota pada abad modern merubah sisi humanis menjadi mekanis. Semua geraknya dibangun atas prinsip ekonomi. Kesibukan yang padat membuat orang tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi, walaupun sebatas menyapa tetangga. Manusia diperlakukan seperti mesin yang siang dan malamnya diisi dengan kerja.

Kebanyakan kaum urban kota kehilangan makna tentang hidup. Tidak mengerti tentang arti sebuah tujuan hidup. Apalagi memikirkan kota sebagai tempa tinggal. Maka sisi humanis antara manusia dan kota semakin terkikis. Masalah yang muncul adalah masyarakat membutuhkan sebuah media dalam rangka menjalani kodratnya untuk bersosialisasi dan memikirkan kehidupan. Dengan cara itu, kreativitas akan muncul, dan secara alamiah kehidupan menjadi bermakna.

Landmark di banyak kota dijadikan tempat berkumpul untuk melakukan sebuah aktivitas. Di dalamnya orang melakukan relasi sosial. Jadi dalam konteks biner manusia dan kota, landmark berdiri sebagai ruang publik yang menyediakan banyak fasilitas untuk mengembalikan manusia pada kodratnya. Kehidupan menjadi indah.

Makna membuat orang menghayati sesuatu dengan tulus. Makna juga bisa membuat orang merasa memiliki. Maka masyarakat Jakarta yang dapat menghayati denyut kehidupan di dalamnya akan bisa menjaga kota ini tetap humanis. Yakni menjadikan hidup di kota seperti Jakarta berada dalam suasana yang terbuka dan partisipatif.

Buku karya mahasiswa LKM UNJ ini merupakan hasi studi lapangan—yang dituliskan dengan gaya feature—tentang bagaimana relasi masyarakat dalam landmark. Bagaimana masyarakat memaknai kotanya sendiri. Di dalamnya adalah sebuah kisah tentang keberadaan Jakarta dan sejarahnya. Sementara landmark adalah sebuah medium sejarah yang diabadikan dalam sebuah ingatan masyarakat.

Prosesnya tentu tidak mudah, berbagai cara mereka lakukan dengan tujuan untuk mendapakan potret relasi masyarakat yang ada di setiap landmark. Terkadang harus pulang larut malam dan datang teramat pagi untuk mengetahui detil kondisi kehidupan di landmark Jakarta. Hal itu penting untuk dapat membuat feature yang baik.

Meski tidak dapat mencakup keseluruhan landmark yang ada di Jakarta, buku ini cukup bisa mewakili keberadaan landmark terpenting tentang sejarah kota Jakarta. Landmark yang dibahas antara lain Monas, Taman Suropati, Senayan, Bunderan HI, Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Tugu Tani, Lapangan Banteng, Pasar Baru, Sunda Kelapa, Patung Sudirman, Tugu Pancoran, Taman Proklamasi, Rumah Pitung, Stasiun Kota, Museum Sumpah Pemuda, Halim Perdana Kusuma.

Perlu diapresiasi ikhtiar para mahasiswa LKM UNJ dalam mengupas landmark di Jakarta serta relasi sosialnya di ruang publik. Terlepas dari kekurangan yang terjadi, buku ini adalah sebuah gambaran tentang sekelompok mahasiswa yang bekerja keras untuk memaknai proses belajar sebagai suatu upaya mencari pengalaman di luar kelas—yang biasanya jadi tempat mereka duduk dengan manis dan menanti nilai IPK turun tiap semester.

Semoga muncul karya-karya selanjutnya dan tidak akan bernah bisa dihentikan oleh berbagai rintangan apapun. Karena sejatinya manusia akademik akan terus melahirkan pemikiran yang tidak mesti besar, tetapi berkesinambungan dan mencerahkan.
continue reading Sebuah Kisah di Pusaran Landmark Jakarta

Senin, 22 Agustus 2011

Cerita Dibalik Tulisan “Demokrasi dan Kekecewaan”: Eksotika Analitik terhadap Perjalanan Sejarah Politik Indonesia


Dalam tulisan tersebut saya seolah diberikan penyadaran batin, bahwa politik adalah sesuatu yang tidak akan ada habisnya mengecewakan banyak orang. Apapun bentuknya, politik tetap saja mengorbankan rakyat yang nelangsa. Karena ulah pemeran antagonis. Sampai pura-pura bersolek dengan janji muluk tanpa realisasi.

Sekedar bercerita, setiap kali saya membaca tulisan Gunawan Muhammad (GM) selalu saja memberi suatu inspirasi baru di benak pikiran. Kadang seketika itu juga kedua jari saya berdetik dalam keypad handphone yang tak sabar menunggu loading karena ingin segera up date status via “snaptu” perihal internalisasi ide beliau. Ada makna yang menerjemahkan peristiwa, kadang mengajak kita berdialog lewat setiap gagasan yang ia cetuskan. Maklum mungkin karena “sepak terjang” bacaan dan referensi GM sudah matang, beragam, dan membumi dengan dirinya barangkali. Terlebih karena dia wartawan senior yang sudah tidak asing dengan dialektika pemikiran manapun. Dari pemikiran kir ke kanan, atau ilahiah sampai ke pergolagakan filosofi keagamaan. Nikmat didalami.

Selain itu, diksi yang saya resapi sangat sastrawi. Tidak terlalu kaku dengan beban ide yang ia suguhkan. Walau kadang saya sendiri bingung memaknainya. Terlampau tinggi untuk kadar konfigurasi bahasa. Bagi saya, saripati tulisan merupakan bunga dari sebuah lamunan filsafat setelah adanya proses membaca, berpikir, dan menyesuaikan. Membaca sebagai aktivitas input, berpikir sebagai proses pencarian makna, dan menyesuaikan sebagai upaya pembuktian. Agar lebih rasional dan dekat dengan kenyataan sebenarnya. Itulah kaitan yang tak pernah habis dalam proses belajar. Terutama kita sebagai mahasiswa yang bergelut dengan banyak problem, dari berita ke berita. Sampai pada gagasan.

Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama GM adalah pemikiran monodimensional. Ia seorang yang mengisi setiap letupan dialektika dengan beragam pemikiran. Sampai-sampai di “twitterland” ia sering berbagi sumber bacaan atau referensi yang sedang ia baca. Bisa dibilang ia adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka terhadap berbagai hal. Tapi kalau dikerucutkan ia sangat toleran sekali dengan isu humanistik sebagai sifat dan humaniora sebagai dunianya.

Dalam tulisan “Demokrasi dan kekecewaan” yang beliau sampaikan di Pidato untuk Nurcholish Madjid Memorial Lecture II pada tahun 2009. Substansinya mengerucut pada dalih bahwa demokrasi yang berguling sepanjang masa pada akhirnya banyak berujung nestapa. Terutama dalam pergulakan politik di Indonesia “dari masa ke masa” atau “dari transisi ke transisi”. Entah demokrasi parlementer, terpimpin, sampai reformasi. Sama saja. Belum bisa membuat bangsa ini keluar dari penderitaan rakyatnya. Tetap berputar dalam ruang gerak “lingkar setan kemiskinan”. Kemudian dari situ ia mempertanyakan demokrasi sebagai suatu konsep, apakah masih bisa dipertahankan ? kalau iya dalam dimensi dan bentuk yang seperti apa ?

Saya bersama tulisan ini ingin menjawab. Tentu dengan kapasitas saya sebagai seorang mahasiswa yang “minim ilmu”. Jadi maaf saja kalau belum begitu komprehensif. Sebenarnya pemikiran demokrasi yang berkembang pada awalnya mulai diperkenalkan 2.500 tahun lalu di Athena, Yunani. Dalam sejarahnya demokrasi demokrasi amat disakralkan, karena ia konon lahir dari sebuah revolusi berdarah-darah umat manusia melawan kedzaliman, praktik otoritarian. Yaitu upaya reaksioner kaum filsuf, cendekiawan dan rakyat nasrani yang ditindas para kaisar di Eropa yang disahkan pihak gereja. Sejarah yang kemudian didramatisir ini lalu dianggap sebagai sebuah pencerahan (renaissance) umat manusia dari kegelapan (aufklarung/dark ages).

Demokrasi juga dianggap sebagai ideologi suci anti tiran dan kediktatoran. Ia dianggap sebagai suara rakyat. Slogannya; dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Atau demokrasi itu adalah perwujudan dari spirit liberte, egalite, fraternite (kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan). Melawan demokrasi berarti melawan suara rakyat, dan suara rakyat itu adalah kebenaran. Dengan gegabah para pendukung demokrasi sesumbar suara rakyat adalah suara tuhan (vox populi, vox dei).

Padahal antithesis dari eloknya demokrasi juga banyak “korengnya” Tragedi Tiananmen di Cina yang menelan banyak korban mahasiswa pro-demokrasi, atau lebih terkesan dengan Aung San Su Kyi di Birma. Juga peristiwa reformasi 1998 di Indonesia yang banyak menelan ribuan korban sipil juga mahasiswa. Lalu kemudian saya berpikir, apa yang salah ? demokrasi atau perangkatnya ? karena perenungan saya mengatakan bahwa demokrasi bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia dijalankan oleh perangkat yang menjadi “rider” bergulirnya suatu tatanan yang mengatur. Sejarah mengatakan bahwa sistem demokrasi bergulir fluktuatif, “dari baik ke buruk” dan “dari buruk ke baik”. Tapi banyak yang prosesnya seperti ini “dari buruk ke baik kemudian buruk lagi”. Tidak lain manusialah yang berperan dalam turu-naik tersebut.

Menjawab pertanyaan diatas, yang salah dari “borok” demokrasi adalah perangkat dari sitem yang menjalankan. Karena itu tujuan demokrasi sebagai konsep mengembalikan kehendak rakyat tidak tercapai. Akhirnya seperti dalam bahasan GM ditulisan itu mengatakan “otokrasi politik” yang mengangkangi akses bagi rakyat untuk mendapatkan haknya meraih kesejahteraan. Kekuasaan tidak lebih dari olok-olokan sampah yang kalau saya tidak salah baca di dalam sejarah pemikiran sosialis dianalogikan sebagai pihak yang “tidak mampu mengolah karya rakyatnya”. Bahan baku, pajak, dan kerja keras menjadi sia-sia kalau pemerintah tiran. Tidak mampu dengan baik mengolah dengan etos baik. Malah alih-alih membudaki rakyat dengan kebijakan pro-asing.

Jadi, untuk kesimpulan yang pertama sesi tulisan ini saya hanya mau menyimpulkan hal yang sederhana saja. Menjawad pertanyaan GM. Demokrasi sebagai suatu konsep, apakah masih bisa dipertahankan ? kalau iya dalam dimensi yang seperti apa ?Begini, GM dalam tulisan itu menjabarkan dalam “jalan buntu” atau istilahnya “kurva lonceng” yang artinya politik yang tidak kemana-mana, stagnan. Mendobrak sebuah solusi bahwa politik harus dikembalikan kearah “perjuangan” seperti apa yang diupayakan pada masa kebangkitan nasional, kita satu dalam pergerakan memerangi penjajahan. Seperti adanya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Selebes, Jong Islamicten Bond, Pemuda Betawi, Jong Ambon pada akhirnya menjadi “pemoeda indonesia”.

Konteks tersebut kalau diproyeksikan kemudian di zaman sekarang menjadi sulit. Pasalnya orientasi kebangsaan menjadi pudar dan terkotak-kotak dalam orientasi golongan, etnis, dan suku masing-masing. Titik temu tersebut baru ada ketika bangsa ini dirundung masalah besar, dan itu belum terlihat. Kerikil kecil malah dianggap sepele. Sulit untuk dipersatukan karena masing-masing punya kepentingan. Pemersatu kita saat ini hanya “bahasa” dan asas “bhineka tunggal ika”. Kalau itupun pudar karena globalisasi saya tidak tahu apa tumpuan berikutnya.

Kembali lagi. Mari memulai jawaban dari pertanyaan GM. Dalam benak saya, demokrasi bukan saja sekedar “perjuangan”. Ia adalah integrasi dari perpaduan ide, pergerakan dan perangkat kepemimpinan atau yang kita sebut sebagai pemerintah. Perjuangan adalah upaya dalam konteks ikhtiar kenegaraan mewujudkan dimensi mencapai tujuan-tujuan tertentu. Saya mengindikasikan begini. Pertama, Ide adalah gagasannya, dari sini muncul kemudian seperti apa bentuk pemerintahan nanti seperti visi dan misi serta sistem ketatanegaraan. Kedua, Pergerakan sebagai kerangka tahapannya yang coba mengatur proses demokrasi itu berjalan. Ketiga, Sedangkan untuk perangkat pemerintah adalah motor atau pelaku yang menjalankan, ada elemen masyarakat sebagai sipil yang diatur untuk turut mewujudkan demokrasi ideal.

Jadi kesimpulannya dalam posisi yang seperti apa demokrasi bisa dipertahankan adalah jawabannya terdiri dari konteks keterkaiatan tiga hal tersebut. Pada dasarnya saya hanya mencuruhkan apa yang saya pikirkan saja. Demokrasi sebenarnya sengaja dipertahankan sebagai sistem pemerintahan karena sudah terlanjur dijalankan, pilihannya hanya itu. Meski kita tahu bahwa demokrasi belum bisa membawa bangsa ini sedikit baik dengan kualitas hidup rakyat yang sejahtera. Lalu kemudian nantinya bagaimana, demokrasi hanya berubah sesuai kodratnya, ada transisi dan peralihan. Pada saat itulah kemudian demokrasi bias menjadi baik atau bahkan semakin buruk. Tergantung dari pemimpinnya. Dan sekarang bangsa ini belum punya pemimpin sekaliber Umar bin Khattab yang bias mengerti kondisi rakyat untuk kemudian menyelesaikannya secepat mungkin. Seperti kisah seorang ibu kelaparan yang merebus batu untuk anaknya, kemudia diketahui Umar untuk kemudian diberikan makanan saat itu juga.

****

Disini, bagian tulisan kedua, saya pisahkan antara jawaban dialektis saya dengan tanggapan atau letupan ide GM. Kita mulai dari “kekecewaan terhadap parlementer” saya sebut sebagai kesadaran kritis terhadap kondisi saat itu. Dari demokrasi parlementer, kemudian diruntuhkan ke demokrasi termpimpin, lalu beralih transisi ke demokrasi orde baru. Barulah reformasi memulai perjalannya. Menarik sekali seperti serial “ludruk” Jowo. Cerita yang mengilhami banyak pemikir untuk menganalisis penyebab kejadian demi kejadian. Tapi yang tetap ada pada setiap transisi lagi-lagi adalah “kekecewaan”.

Letupan lain dari pemikiran di tulisan itu adalah analogi “sang antah” yang diambil dari teori Lacan disebut sebagai le Reel (dalam versi Inggris, the Real). Dengan itu sebenarnya ditunjukkan satu kekhilafan utama dalam pemikiran politik demokrasi yang mengasumsikan kemampuan “representasi”. Pengertian “representasi” dimulai dari ilusi bahasa, bahwa satu hal dapat ditirukan persis dalam bentuk lain, misalnya dalam kata atau perwakilan. Ilusi mimetik ini menganggap, semua hal, termasuk yang ada dalam dunia kehidupan, akan dapat direpresentasikan. Seakan-akan tak ada Sang Antah.

Disambut dengan teori “demokrasi radikal” yang diperkenalkan Laclau dan Mouffe, dengan menggunakan pandangan Gramsci, maupun oleh pemikiran politik dengan militansi ala Mao dalam pemikian Alain Badiou, kita ditunjukkan bahwa sebuah tata masyarakat, sebuah tubuh politik, adalah sebentuk scene yang tak pernah komplit. Senantiasa ada yang obscene dalam dirinya, bagian dari Sang Antah, yang dicoba diingkari. Maksudnya bila dikatakan bahwa demokrasi adalah “mewakili rakyat” faktanya tidak begitu. Saat ini, demokrasi hanya milik partai politik yang tidak sama sekali representatif. Mereka bukan kepentingan rakyat, orientasinya kekuasaan.
continue reading Cerita Dibalik Tulisan “Demokrasi dan Kekecewaan”: Eksotika Analitik terhadap Perjalanan Sejarah Politik Indonesia

Rabu, 25 Mei 2011

Pendidikan: dari Globalisi ke Jalan Restorasi








Judul Buku : Restorasi Pendidikan Indonesia
Penulis : Tim KREATIS Lembaga Kajian Mahasiswa UNJ
Penerbit : Ar-Ruzz Media
Edisi : Pertama, 2011
Tebal : 193 Halaman


 



Pendidikan Indonesia kekinian dihadapakan dengan suatu dilema globalisasi. Mengapa demikian ? karena tak ayal, bahwa globalisasi yang dianggap N.V Naipaul sebagai suatu peradaban baru universalitas. Globalisasi tidak terlepas dari fase kehidupan peralihan manusia, suatu Negara tidak bisa menutup diri dari kenyataan untuk secara tidak sadar masuk ke dalam gerbang globalisasi. Akan tetapi, dilema yang dimaksud terjadi ketika ketidakmampuan kita untuk survive di era globalisasi yang pada akhirnya menjadi ancaman balik yang menjangkiti lokalitas kultural sebagai karakter bangsa yang mempunyai daulat. 

Bentuk dari ketidakmampuan tersebut juga nampak dalam wajah pendidikan. Belakangan ternyata itu menjadi diskursus masalah karena globalisasi telah ikut-ikutan mengatur pola infrastruktur sistem pendidikan menjadi pasar. Dalam prakteknya pendidikan disamakan dengan perusahaan yang semata-mata menghasilkan profit. Logika berpikir yang dipakai adalah bahwa pendidikan merupakan peluang bisnis yang tidak akan pernah sirna. Apalagi kelesuan ketika resesi ekonomi datang, setiap orang akan tetap menyekolahkan anaknya sebagai investasi masa depan.
   
Alih-alih demikian pendidikan pada akhirnya akan dipadati motif ekonomi. Rusaknya semua diukur dengan uang. Lebih riskan karena pendidikan saat ini berubah menjadi komoditas, hal itu merupakan metamorphosis yang dinamakan komodifikasi. Dimana suatu nilai humanisasi-moral telah tergantikan dengan instruen kapitalistik. Tujuan dasar pendidikan sebagai fungsi memanusiakan manusia telah berubah menjadi “mengambil keuntungan dari manusia”. Ini sungguh telah keluar dari prinsip dasar pendidikan.

Dasar dari prosesi pemaknaan tentang arti pendidikan Indonesia seutuhnya terletak pada ajaran Ki Hajar adalah konsep Panca Darma Perguruan Tamansiswa yang disusun pada tahun 1947. Konsep ini juga dikenal dengan nama “Asas-Asas 1922”. Melalui ini Ki Hajar seolah-olah beliau ingin mengungkapkan bahwa usaha-usaha mencerdaskan kehidupan bangsa harus memiliki landasan yang kuat. Asas-asas Panca Darma ini merupakan intisari dari karakter pendidikan Indonesia yang disarikan dari pola hidup. (Hal 78)

Asas tersebut antara lain: kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kelima asas tersebutlah yang dijadikan ki Hajar dalam menyelenggarakan proses pendidikan. Bukan tanpa alasan, bahwa perumusan asas tersebut bermuara pada filosofi pendidikan yang dimaknai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era global. Sebenarnya jika ingin menginduk, realisasi asas dari Ki Hajar tersebut bisa dijadikan dasar bekal untuk merancang strategi dalam menghadapi globalisasi. Konteks memanusiakan manusia dalam asas Panca Dharma sudah cukup relevan untuk generasi Indonesia.

Pendidikan Riwayatmu Kini

Pendidikan dari dulu sudah ada sebelum era kemerdekaan. Semenjak bangsa ini belum terbentuk dan masih terbelah-belah dalam monarki kerajaan. Kerajaan islam dulu menggunakan pendidikan pesantren, sedangankan kerajaan hindu-budha menggunakan pendidikan karsyan. (Hal 68). Secara sistem dan prakteknya hampir sama, hanya saja konten yang diajarkan berbeda, kemiripannya ada pada diuskursus religiusitas yang ada pada keduanya. Karena pada waktu itu yang paling nampak adalah semangat untuk penyebaran paham agama dan pendalaman bagi pemeluknya.

Pada masa berikutnya menjelang terbentuknya bangsa melalui sumpah pemuda. Tan Malaka pada tahuan 1921 menanamkan konsep pendidikan yang peduli pada kaum kromo dengan mendirikan S.I School bagi anggota Syarikat Islam. Kemudian beliau merumuskan tiga tujuan utama pendidikan: pendidikan keterampilan/ilmu pengetahuan, pendidikan bergaul/berorganisasi, dan pendidikan yang selalu berorientasi pada rakyat kecil. Tujuan tersebut diambil karena Tan Malaka sadar benar bahwa mereka rakyat adalah yang harus mengenyam pendidikan. Karena yang membutuhkan akan kehidupan layak adalah rakyat pada akhirnya. (Hal 69)

Pasca-kemerdekaan, pendidikan dibentuk menjadi empat tingkatan, yakni Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi (PT). Semua berpedoman pada kurikulum yang setiap waktu terus berganti, hal itu dikarenakan kaburnya orientasi pendidikan nasional. Belum juga tuntas satu kurikullum dijalankan, sudah berganti. (Hal 72) Ketidaktuntasan implementasi kurikulum membawa kebingungan para pelaku pendidikan. Faktor yang paling tegas mewakili hal tersebut adalah urusan politik. Ganti menteri ganti juga kebijakannya. Pendidikan seperti ada dibawah baying-bayang ketiak penguasa.
   
Hikayat pendidikan Indonesia memang mengalami perubahan fundamental dalam aspek filosofis. Saya melihat hal tersebut dengan skeptis, semakin kesini pendidikan kita semakin jauh dari nilai identitas budaya bangsa. Atau setidaknya tidak berorientasi pada pembekalan pembangunan sosio-ekonomi. Bahkan, generasi Indonesia sendiri tidak ditanamkan untuk mengenal potensi daerahnya secara teoritis, spesifik, dan teknis. Bobot untuk bagaimana siswa dapat membangun Indonesia tidak ditekankan dalam-dalam. Sehingga lulusan sekolah bingung melakukan upaya pembangunan mikro pada potensi daerahnya an sich. Kebingungan tersebut tercermin pada lulusan yang kian banyak menjadi penganggur. Bahkan di desa anak muda tidak berkeinginan menggarap tanah, lebih suka pergi kota dan kerja pabrikan.

Bila kita melakukan peninjauan ulang hal tersebut akan terlihat dari bahan ajar, materi, dan kurikulum. Minim sekali muatan teknis sebagai prasarana pengetahuan anak untuk kenal secara spesifik muatan bangsanya sendiri. Ilmu yang diajarkan terlalu general, walaupun saya sendiri paham tentang arti jenjang dan tingkatan juga spesifikasi jenis sekolah, misal jika SMA diajar teoritis sedangkan SMK diajar teknis. Semua tetap pada kiblat dan karakter pendidikannya masing-masing. Hanya yang menjadi penekanan adalah bagaimana siswa bisa mengenal bangsa dan negaranya untuk menjadi bekal pengetahuan kedepan.

Pada taraf SMA anak bisa saja diajarkan teori tentang keindonesiaan. Bagaimana mereka mengenal teori budaya indonesianya, teori pembangunan pedesaan dari ekonomi, sosial, sampai politik. Sedangkan SMK bisa diajar teknis pengelolaan lahan pertanian Indonesia. Sehingga ketika lulus mereka sudah memiliki bekal ke arah penyikapan rekayasa pembangunan sebagai strategi keunggulan bersaing. Di perguruan tinggi, proses situ dilanjutkan menjadi konsep-konsep yang siap diimplementasikan dalam bentuk community development.

Restorasi Seperti Apa ?
   
Makna dekat dengan kata, sebab dari kata makna punya maksud. Lebih dalam, maksud adalah motif. Setiap motif selalu punya alasan tertentu. Restorasi pendidikan memiliki arti yang berbeda dari pemakaian biasanya. Jika dikaitkan dengan persamaan bahasa, restorasi berarti melakukan pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula. Dalam kategori ini, maksud dari restorasi pendidikan bisa diarhkan untuk meluruskan praktek pendidikan yang sudah caut-marut ini pada pondasi yang benar dan sesuai dengan karakter filosofis pendidikan dahulu sebelum kemerdekaan. Kental budaya dan orientasi kemandirian bangsa.
   
Sedang dari aspek empiris, restorasi diartikan untuk dapat melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas daya saing suatu bangsa. Hal tersebut tercermin dari Restorasi Meiji, dimana anak-anak muda Jepang dengan globalisasi belajar modernisasi Barat untuk membangun bangsanya yang telah kental akan tradisi. Globalisasi tidak mungkin kita hindari, tapi yang harus kita lakukan adalah melakukan upaya untuk memperkuat diri membentuk karakter local wisdom dengan menggalang kesatuan. Sebagaimana diungkap oleh Milton Santos “apa yang global terbelah-belah; apa yang lokal-lah yang memungkinkan persatuan.”.
   
Hanya dengan cara itu kita tidak termakan arus globalisasi, intinya setiap bangsa di era globalisasi harus memiliki posisi yang jelas, kuat dan sinergis. Hal itu dibangun dengan berbagai elemen yang bermuara pendidikan. Oleh karenanya, untuk memperbaiki bangsa yang sedang sakit turning point-nya harus dimulai dari pendidikan. Maka lahirlah gagasan “Restorasi pendidikan Indonesia”. Yang dikemas dengan sekelumit dikotomi tegas dari masalah-ke-gagasan. Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan.
   
Pertama, membentuk karakter khas pendidikan Indonesia. Gagasan ini bertolak pada logika potential power. Maksudnya, pendidikan diarahkan untuk memanfaatkan potensi yang dimilliki oleh bangsa. Potensi itu adalah dimensi multikultural dan kekayaan sumberdaya alam. Sedangkan sumber daya manusia kita belum cukup mempunyai kemampuan untuk mengelola semuanya. Ketergantungan teknologi yang membuat kita selalu membuka pihak asing untuk mengelola itu yang akhirnya menimbulkan masalah. Eksploitasi besar-besaran telah menyedot kekayaan alam kita, hingga kerusakan lingkungan timbul menjadi bencana.

Oleh karenanya, pendidikan harus mengisi ruang dimana generasi Indonesia mampu untuk memanfaatkan potensi besar ini, secara merata dan menyeluruh. Karena bangsa kita merupakan kesatuan maritim yang tingkat pemerataan akan sulit sekali terwujud jika infrastruktur tidak dibangun. Atas dasar itu, pembangunan pendidikan juga harus dimulai dari bottom up, dari education for all menjadi seimbang dengan education from all. Jadi penerapan pendidikan bisa berangkat dari masyarakat sipil yang mempunyai perhatian dari pendidikan, atau citizen education. Hal itu akan lebih baik sambil dibarengi dengan proses pembangunan infrastruktur yang memakan waktu.

Kedua, menjadikan pendidikan sebagai suaka kultural bangsa. Gagasan ini berbentuk konservasi peralihan fungsi pendidikan yang tidak hanya melakukan prakter belajar mengajar, akan tetapi juga melakukan pelestarian terhadap cultural heritage. Sehingga gagasan ini berinduk pada idiom idiom “bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya”. Budaya merupakan perwujudan karakter dari masyarakat suatu bangsa. Bukan karakter yang mudah untuk mengikuti, melainkan menjaga untuk kelestarian yang berkelanjutan tanpa menolak perubahan

Ketiga, menjadikan pendidikan sebagai literate society. Menginduk ke masalah awal sebenarnya disinilai persinggungan gagasan dari globalisasi ke nilai upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan pendidikan semakin berdaya-guna. Masyarakat literasi (literate society) secara sederhana diartikan sebagai masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Namun dalam konteks kekinian, literasi memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam paradigma berpikir modern, literasi juga bisa diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena sosial dengan huruf dan tulisan. (Hal 163)

Dalam prakteknya, literate society tidak mesti menjadi beban. Karena budaya membaca dan menulis bukan suatu yang sulit. Masalahnya hanya kita belum terbiasa menerapkan budaya demikian. Ini juga termasuk hal yang universal, karena meskipun peminatan budaya itu luas dan beragam. Budaya membaca dan menulis akan memberikan sumbangsih jaringan untuk diketahui oleh semua, respon perkembangannya dapat berupa demo budaya ataupun hasil penelitian entang budaya tersebut. Ditahapan berikutnya jika budaya literate society secara agregat diterapkan, maka peningkatan taraf kesadaran nilai manusia akan membentuk sumberdaya masunusia yang berkualitas, dengan sendirinya akan memberikan dampak pada kemajuan sosio-ekonomi.

Ketiga gagasan tersebut merupakan sedikit perenungan dari buku yang telah ditulis. Intinya proses menulis yang dilakukan pembelajar di LKM atas buku “Restorasi Pendidikan Indonesia” bukan ditujukan untuk menjadi ide tersebut mutlak adanya, akan tetapi dapat mengisi ruang kritis mahasiswa untuk mendalami isu pendidikan. Juga semangat menulis yang sudah mulai pudah di kalangan mahasiswa pada umumnya. Satu hal yang dapat mengikat gagasan di buku itu adalah bahwa perubahan merupakan suatu kepastian, namun seberapa besar strategi kita untuk siap menghadapi perubahan tersebut dengan pikiran yang terbuka.

continue reading Pendidikan: dari Globalisi ke Jalan Restorasi