Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Sehari dalam Komunitas Bambu

"There is no end to education. It is not that you read a book, pass an examination, and finish with education. The whole of life, from the moment you are born to the moment you die, is a process of learning" Jiddu Krishnamurti



Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Saya selain menghabiskan waktu dengan belajar. Dalam konteks praksis, belajar adalah keluar dari kenyamanan, membawa diri untuk melihat hal yang belum pernah kita lihat, mengetahui apa yang belum pernah kita ketahui, mencari apa yang belum kita miliki, dan memadukan apa yang terpisah. Semua kita lakukan dalam rangka memaknai jalan hidup.

Pernah suatu ketika Saya membayangkan, suatu masa depan dimana kehidupan terlepas dari ketergantungan yang kita miliki saat ini, entah keluarga yang setiap kali kita andalkan jika ada kesulitan, teman yang selalu kita minta bantuannya, atau kekasih yang selalu kita ajak berbagi dalam suka maupun duka. Cepat atau lambat kita akan menghadapi siklus-siklus krisis. Lalu apa yang kita bisa perbuat selain memperkuat diri sendiri?

Kita tidak bisa berharap banyak dari apa yang ada di luar diri kita. Pada saat itulah Saya berpikir bahwa ada hal-hal yang perlu diantisipasi untuk menghadapi situasi krisis. Salah satu yang paling mungkin adalah bagaimana membekali diri menjadi orang yang mandiri. Kemandirian selalu identik dengan kemapanan. Lalu bagaimana mencapai suatu kemapanan?

Saya memaknai kehidupan itu seluas mungkin. Dari situ kemudian hal-hal lain yang berkait di dalamnya kita persiapkan. Hal yang paling tidak mungkin adalah bagaimana sesuatu hal kita inginkan tiba-tiba ada tanpa adanya proses. Apa esensinya? Kenapa harus ada proses? jawabannya hanya satu, kita diperintahkan untuk BELAJAR. 



Dalam rangka belajar, memperdalam ilmu, dan memperluas jaringan, Saya bersama adik-adik dari Lembaga Kajian Mahasiswa UNJ bercengkrama dengan Bang JJ Rizal, seorang sejarawan muda yang dimiliki Indonesia.  Beliau juga pendiri Komunitas Bambu, lembaga riset di bidang humaniora dan penerbitan buku.

Pagi itu di Sekretariat Komunitas Bambu, Jl. Pala No. 4B Beji Timur Depok kami tiba kira-kira pukul 10.30 WIB. Dengan sambutan hangat dari beliau, kami langsung berkenalan dan dipersilahkan masuk. Tanpa basa-basi, obrolan ringan mulai mengisi pertumuan pagi itu. karena beliau adalah seorang sejarawan, banyak menggeluti sejarah Jakarta, maka obrolan ringan itu langsung mengerucut pada konteks sejarah dan kebudayaan jakarta.

Kritik-kritik terhadap pembangunan Jakarta beliau sampaikan pada Gubernur baru, Jokowi. "Kebijakan Anda itu tidak tepat sasaran!" begitu ia menegur Jokowi. Kebijakan seperti kartu pintar dan kartu sehat tidak lebih dari kebijakan populis dan tidak relevan dengan kebutuhan masalah jakarta saat ini. 

Beliau mengumpamakan "Menjadi Gubernur ibu kota itu harus memposisikan diri dengan Jakarta sebagai istri sendiri" ketusnya. 

Mengapa demikian?  "Ya kalau istri sendiri kan pasti tau siklusnya, kapan dia datang bulan, biasanya lebih sensitif". 

"Kalau jadi gubernur ya harus tau kapan waktunya Jakarta itu curah hujannya tinggi, apa yang dibutuhkan untuk menangani banjir" ungkapnya.

Banjir yang ada di Jakarta adalah korban dari pembangunan yang tidak terarah dan sesuai dengan rencana pembangunan kota Jakarta sejak zaman belanda. Sejak dulu, wilayah Jakarta Selatan adalah daerah yang tidak boleh dibangun jadi perumahan, karena harusnya menjadi daerah aliran air bila terjadi kelebihan dari Jakarta. Wilayah Pluit dipersiapkan untuk hutan bakau, sekarang malah dibangun Perumahan. jadi jangan salahkan banjir kalau sudah begini.



Sebagai orang yang menggeluti dunia kajian dan riset humaniora. Bang JJ Rizal membangun Komunitas Bambu dengan 12 karyawan yang berfungsi sebagai officer management. Sedangkan yang bergerak di bidang risetnya hanya beliau seorang, "Saya menganggap diri saya sendiri sebagai seorang lembaga riset"

Beliau juga memberikan kita sebuah pengalaman yang menarik tentang susah-payah membangun Komunitas Bambu selama belasan tahun, namun baru 5-6 tahun ini saja Komunitas Bambu mulai gencar menerbitkan buku yang saat ini percapai 200-an. Upaya ini tidak lain berangkat dari filosofi ingin mengenalkan generasi penerus tentang sejarah bangsa, agar kita semua mengenali seperti apa negara kita.

Tentang kehidupan, beliau berbagi tips "Kalau kalian bekerja dan tidak sedikitpun merasakan capek, berarti jalan hidup kalian sudah benar, seperti saya ini.."

Memang benar adanya, bahwa dalam hidup ada sesuatu yang perlu dikejar, sesuatu yang kita perjuangkan, sesuatu yang kita anggap sebagai jalan hidup atau passion. Begitulah jalannya sehingga kita bisa menikmati waktu yang terus berjalan seolah tidak pernah ada bosannya.
continue reading Sehari dalam Komunitas Bambu

Jumat, 17 Agustus 2012

Cycling Around The Village

Sepeda adalah kendaraan vital di Pare. Setiap orang bangga mengendarai sepeda dalam menjalani keseharian. Kemanapun mereka pergi, sepeda menjadi kendaraan pavorit dan gaya hidup. Baik orang tua, maupun anak muda.

Di Pare banyak sekali tempat penyewaan sepeda. Biasanya untuk para pelajar yang kursus menyewa sepeda untuk jangka waktu seminggu, dua minggu, ataupun sebulan. Biasanya rata-rata per bulan untuk sewa sepeda Rp50.000, per hari bisa Rp5.000, dan seminggu bisa mencapai Rp15.000

sepeda yang disewakan pun bermacam-macam, mulai dari Sepeda Gunung, Sepeda Fixie, Sepeda Mini, Sepeda Kuno - Seperti Ontel. Kita bisa memilih sesuai dengan minat kita. prosedur yang harus dilakukan oleh penyewa biasanya adalah menyerahkan Kartu Identitas, Seperti SIM, KTP, KTM (bagi mahasiswa).


Fun bike

Banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan bersepeda di Pare, letaknnya yang dekat dengan Situs Bersejarah, seperti Candi Surowono. Jadi kalau mau jalan-jalan banyak pilihan. Kita juga bisa bersepeda keliling desa yang penuh dengan persawahan, dan pemandangan gunung di berbagai penjuru arah. 

Sambil bersepeda juga kita mengajak teman-teman untuk ikut bersama. Semakin banyak teman, semakin ceria suasana. Biasanya sehabis bersepada, tidak salah untuk mencoba berbagai jajanan khas Kampung Pare, seperti Ketan Susu dan Dawet Ireng.

Kegiatan bersepada seringkali ramai dilakukan pada sore hari sehabis aktivitas kursus, juga di akhir pekan untuk menghabiskan waktu liburan di sela-sela aktivitas yang sibuk.


Jalan yang lowong di kampung Inggris, Pare



Arah menuju Alun-alun Pare
continue reading Cycling Around The Village

Minggu, 27 Mei 2012

When I Left My Heart on Maddi Jane



Siapapun yang nonton video Maddi Jane, pasti terpikat dengan suara dan caranya bernyanyi yang khas, awesome ! So, who is Maddi Jane ?


Maddi Jane adalah penyanyi remaja berbakat. Umurnya masih 13 tahun, still too young to be a superstar. Lahir pada 4 September 1998. She was a little girl but she have amazing voice.  Not only does she have an amazing voice but she’s also very pretty


Dia tinggal dan bernyanyi di Chicago, IL. Pada 3 Juni 2011, ia menempati peringkat keempat pada deretan artis pendatang baru dalam daftar artis Billboard . Videonya di Youtube telah disaksikan 17 juta kali, maka pasti ada yang istimewa dari talenta yang dimiliki gadis berusia 13 tahun ini. 


Saat ini dia bakalan rekaman lagu aslinya dan tetep nge-cover lagu-lagu dengan gayanya sendiri. So, penggemar Maddi Jane ini gak sabar buat lagunya yg terbaru. Kalo mau ngunjungi web resminya ada di : http://www.maddijane.com and her youtube page is: http://www.youtube.com/user/maddijanemusic 




Gadis berbakat ini sudah menunjukkan kepiawaiannya sejak kecil, bernyanyi seperti menjadi hal yang menyenangkan baginya. Hal itu dapat dilihat setelah mengupload lagu-lagu cover version dari artis-artis terkenal seperti Bruno Mars, Taylor Whift, Adele dan Jessie.


Maddi pernah diundang menjadi tamu pada Ellen DeGeneres Show. Dalam acara itu, Maddi menyanyikan sebuah lagu berjudul "Breakeven". Penonton sangat terpukau dengan penampilannya.




Karena popularitas onlinenya, nama Maddi masuk ke dalam daftar peringkat Billboard 50. Orang-orang yang terdaftar dalam Billboard 50 dihitung dari popularitasnya dalam beberapa situs jaring sosial seperti YouTube, Vevo, Facebook, Twitter, MySpapce dan ilike. Saat ini Maddi Jane berada di posisi ke 41, diatas beberapa nama musisi dunia terkenal sepeti Enrique Iglesias, Jennifer Lopez, Michael Buble, dan Avenged Sevenfold.


Selain membuat komunitas penggemar secara online, Maddi juga meminta para penggemarnya mengirimkan surat ke alamat P.O. Box nya di Nashville.



continue reading When I Left My Heart on Maddi Jane

Senin, 23 April 2012

The Pickled Cucumber Noodle


In the different  places, tasting food sometimes gives us an exciting sensation. Every regions have typical dish and unique flavour from its culture.

It was a day when I spent my time by eating chiken noodle in Pare. It wasn't same as the  noodle from Jakarta. The texture of noodle was bigger and sweeter than other noodle that I ever ate. The most contrasting from the others was the pickled cucumbers in a bowl - the things that I never seen before.

a portion of chicken noodle in pare is big. It is suitable for the starving people. if you aren't enough by one portion, you will order two portions.

Price of noodle in pare is cheaper than other noodle in Jakarta. You can bought a portion for Rp4000. It is affordable price for student in Pare. And we can make saving from our pocket money. The noodle vendors usually sell in Brawijaya Street. It is near from Pare Hometown.
continue reading The Pickled Cucumber Noodle

Rabu, 11 April 2012

Morning Dew in Pare

It was dissimilar morning in a small village, Pare - the part of Kediri. In the sunny sunday, the kids ran around cheerfully, the mothers went to the traditional market with their handbag, and the vehicles - pedicabs, bicycles, and public transportation - passed back and forth on the Brawijata street. They loaded the street which was not dry yet from its dew that wetted the asphalt last night.

While the sun rises, I went too far in the rush. The sensations was different then Jakarta, my hometown. Although both of them were crowded in the weekend, in Pare, I felt extremely lush. It gave me a big impession and tranquility situation.

This was the only one of my holidays that I had whole the weeks when I studied in Pare. The day when I spent and wasted the times by refreshing - taking excersise, walking around village, and tasting traditional food. Those activities was taken with my friends. The day was meanigful for me who did not settle down in Pare.


One of the symbols in the downtown of Pare - it is Adipura award
when Pare was the one of the cleanest village

Statue of the heroes in the crossroad of Pare

It is me, when was taking a rest after finishing excersise

Traditional market in Tulungrejo, Pare

Real condition in the street traditional market in Tulungrejo, Pare

Tasting traditional food, pecel rice,
with my friends - Maftuhah, Rayyan, Adip, and Arif.


continue reading Morning Dew in Pare

Rabu, 24 Agustus 2011

Sate Afrika, Bukan Sate Biasa


Suatu minggu saya berkesempatan mencicip hidangan ala Afrika yang kesohor itu. Letaknya di tepi Jalan KS Tubun. Tepat disamping Mesuem Tekstil Jakarta. Mencari alamat resto ini agak sulit, karena letaknya tidak persis di samping jalan. Masuk kedalam kompleks pertokoan.

Awalnya saya hanya terbawa rasa penasaran. Kemudian coba mengajukan pertanyaan. Apa beda Sate Afirika dengan Sate Madura ? Dari situ kemudian saya berniat sesekali waktu pergi untuk merasakan seberapa nikmat hidangan khas Afika itu.

Sate Afrika boleh jadi merupakan satu-satunya tempat makan khas Afrika di Ibukota Jakarta. Perintis usahanya adalah Haji Ismail, pria asal Mali, sebuah negara bekas koloni Perancis di sub-Sahara, Afrika Barat. Ia Merintis usaha tersebut semenjak tahun 1999.

Ia masuk Indonesia tahun 1997. Siapa sangka pria yang sukses dengan Sate Afrika ini adalah seorang yang awalnya berdagang sandal jepit selama satu tahun. Kemudian ia berpikir untuk berbisnis kuliner karena belum ada orang Afrika yang dagang makanan.


Semula, pengujungnya kebanyakan orang Afrika, sekarang orang Indonesia lebih banyak. karena banyak yang merasakan cocok dengan rasa Sate Afrika. 

Warung itu sesungguhnya tanpa nama. Sate Afrika merupakan nama yang tersebar di antara pelanggan, kemudian terlanjur terkenal. Meski disebut sate, jangan bayangkan masakan Ismail itu seperti sate dalam arti yang umum.

Sate atau satai dalam leksikon kuliner Indonesia adalah irisan daging kecil-kecil yang ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap. Sate Ismail Coulubally tidak ditusuk, tidak diberi bumbu kacang atau kecap.



Domba yang dipakai adalah domba betina, berusia satu sampai dua tahun dengan berat badan maksimal 20 kilogram. Domba-domba itu dipesan dari Cipanas, Jawa Barat. Ismail memesan dua sampai tiga ekor domba setiap hari.

Bumbu Sederhana

Dalam mengolah masakannya, Ismail tidak menggunakan banyak bumbu. Meski begitu satenya terasa empuk, garing, dan gurih. Rasa dagingnya menonjol. Menurut salah seorang karyawan tempat itu, bumbunya hanya penyedap rasa dan garam.

Ismail juga menyediakan sambel lampung yang dicampur dengan mustard. Orang bisa mencocol potongan daging dalam sambal yang dicampur mustard tersebut. Namun tanpa dicocol sambal pun rasa satenya sudah makyus.

Proses pengolahannya tergolong sederhana "Pertama, daging dipotong-potong dalam ukuran besar, lalu dibakar di atas bara sampai hampir matang," kata Ismail.

Selanjutnya, daging diungkep dalam panci. "Tidak pakai air atau minyak. Nanti minyak dagingnya keluar sendiri. Itu sekitar 20 menit. Minyak itu dibuang. Jadi kolesterolnya mati (tidak ada). Makanya, makan makanan saya tidak akan kolesterol atau darah tinggi karena minyaknya sudah dibuang. Ketika memotong daging, lemak-lemaknya juga kami buang," katanya.

Setelah diungkep, daging dipotong-potong kecil kemudian dibakar sampai matang. Selama proses itu, lemaknya terus keluar. Potongan daging lalu dimasukkan ke dalam panci kecil, ditaburi garam halus, penyedap rasa serta irisan bawang bombay mentah. Panci digoyang-goyang agar garam dan penyedap rasa tersebar merata. Kemudian daging dibungkus pakai aluminium foil dan ditaruh di atas tungku pembakaran yang masih panas. Kalau ada pelanggan, bungkusan tinggal dibuka, daging disuguhkan.

Pilihan menu ada dua macam, sate daging atau jeroan. Sate daging seporsi harganya Rp 35.000 sementara jeroan Rp 30.000.


 
continue reading Sate Afrika, Bukan Sate Biasa