Jumat, 16 Maret 2012

Dibalik Pikiran, Tersimpan Tulisan



 

HISTORY WAS BEGUN WHEN WRITING WAS FOUND. Dahulu sebelum manusia menemukan bentuk tulisan pada peradaban tertua di dunia seperti Mesir, Sumeria, Babylonia, Niniveh, China dan lain-lain, ternyata ide lebih dulu lahir untuk mempertahankan hidup dan menciptakan sejarahnya. 


Mereka melakukan survivalitas dalam bentuk nyata−menuangkan ide dan gagasan dalam lingkup taktis, yaitu perilaku sehari-hari dalam bertahan dari masalah. Hal itu berubah menjadi dokumentasi lantaran mereka ingin membangun wacana dari generasi ke generasi.


Transformasi aksara dalam abjad diberbagai bentuk apapun diawali dari pertalian antara ide dan imajinasi, bagaimana manusia memadukan rasio, kronologis, dan mitos. Mereka berpikir merumuskan gagasan yang disesuaikan dengan konteksnya.


Hal itu dapat dilihat dari rekam jejak sejarah awal ditemukannya tulisan. Kebudayaan menulis bisa ditemukan di daerah Mesopotamia dengan menggunakan bentuk-bentuk segitiga yang terbuat dari tanah liat (milenium ke-4 sebelum masehi), Turkmenistan dengan ditemukannya potongan batu yang digunakan sebagai stempel (4.000 tahun lalu).


Cina dengan media tulang dan tempurung kura-kura (pada masa Dinasti Shang, 1500 tahun SM), Mesir dengan hieroglipnya yang terkenal (3200 tahun SM), dan Lembah Hindustan dengan adanya penemuan 10 skrip di dekat Gerbang Dholavira sebelah utara (5000 tahun SM). Begitu pula ditemukan kebudayaan menulis pada bangsa Phoenicia melalui skrip Proto-Caananite (abad ke-11 SM) dan skrip Tifinagh yang terkenal dengan bahasa Berber.


Sedangkan di daerah Mesoamerica, ditemukan potongan-potongan batu di Veracruz, Meksiko (3000 tahun lalu) dan skrip Zapotec (500 tahun SM). Skrip yang terkenal adalah dari kebudayaan Maya yang menggunakan simbol Syllabic yang mendekati tulisan Jepang (abad ke-3 SM).


Hampir semua fakta penemuan itu berbentuk gambar, bentuk, dan simbol. Kekuatan ide dan imajinasi mendominasi elemen makna yang merupakan tujuan akhir dari bentukan peradaban. Artinya bahwa ruh dari tulisan adalah ide dan gagasan, imajinasi adalah ruang tempat olah pengalaman, kemudian medianya adalah tulisan.


KARENA DASARNYA ADALAH IDE, perlu sekali kita ulur darimana ia berasal. Pada dasarnya ide adalah olah pikiran manusia. Dalam bentuk yang lebih applicable sebenarnya ide adalah solusi, gagasan, dan bisa saja kreativitas yang bermuara pada inovasi. 


Tulisan dan ide merupakan saudara kembar, dikandung bersamaan, lahir dalam satu momentum waktu. Oleh karenanya sulit sekali memisahkan kedua hal itu dalam proses menghasilkan karya yang baik.


Albert Camus dalam novelnya yang berjudul The Plague mengatakan “Man is an idea…” , bahwa manusia adalah ide itu sendiri. Identitas manusia dilekatkan pada ide, karena sejatinya tugas utama adalah berpikir.


Bahan bakar ide adalah informasi, pengalaman, dan pikiran kritis. Perlu diketahui bahwa penjelasan panjang tentang ide sebenarnya hanya berkutat pada lingkup cara manusia berikir –ilmu tentang otak manusia, cara belajar, dan ingatan− serta adaptasi dengan perubahan.  Tentu hal ini mengindikasikan bahwa ide adalah rekonsiliasi yang kontinu.


Orang dengan kemanpuan menghasilkan ide yang cemerlang adalah orang yang melakukan proses itu secara simultan, serta berjiwa kritis, dan senantiasa ingin tahu. Adaptasi tersebut akan membuat satu paduan yang mengarah pada hasil pikiran.


Napoleon Bonaparte mengaitkan ide dengan revolusi, ia mengataka  bahwa “A revolution is an idea which has found its bayonets” . Saya bisa mengatakan bahwa senjata revolusi−dalam bahasa saya adalah perubahan−tidak lain ialah ide.


Itulah kenapa kehidupan dapat bertahan sampai saat ini menurut John F. Kennedy, “A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on”.


Saya simpulkan dengan bahasan sebelumnya bahwa sejatinya tulisan adalah media bagi ide yang dipadupadankan  untuk bertahan terhadap perubahan. 


****


SAYA KAGET MELIHAT SEORANG PEDAGANG KETOPRAK yang sedang membaca buku disela waktu senggang berdagang. Waktu itu saya sedang menyisip disela waktu istirahat siang pada waktu kerja. Singkat cerita saya bertanya kepadanya.


“Pak baca apa kayaknya serius banget?” Tanya saya.
“Baca buku de, buku wirausaha”  Jawabnya.
“Bapak suka baca buku? Untuk apa?” Saya kembali bertanya.
“Iya dek, siapa tau saya bisa ngembangin usaha” ketusnya.


Perbincangan itu berlangsung singkat,  namun sarat makna. Saya sampai berpikir berulang kali, sepertinya teman-teman saya di bangku kuliah dulu kalah dengan tukang ketoprak itu. Ia sangat mengerti bahwa hanya wawasan dan informasi yang dapat membuatnya maju.


Pelajaran lain yang saya simpulkan adalah keinginan belajarnya yang kuat, tidak melihat profesi, dan waktu yang padat. Kegiatan itu ia lakukan terus-menerus ketika saya melihatnya di hari-hari selanjutnya. Sebuah pelajaran yang sangat berharga.


Sampai saat ini saya malu kalau tidak membaca jikalau mengingat si pedagang ketoprak itu. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi motivasi saya.


UNTUK DAPAT MENULIS DENGAN BAIK KITA HARUS BANYAK BERLATIH. Dulu ketika saya bergabung di LKM. Menulis merupakan makanan pokok sehari-hari. Saban malam saya memikirkan, apa yang bisa say tulis besok? Meski begitu tidak setiap hari saya menyelesaikan satu tulisan−prosesnya bisa sampai 2 hari, 4 hari, atau bahkan bermingu-minggu.


Masa-masa di LKM adalah kenangan saya belajar arti kehidupan. Meski terbilang sulit, saya menghargai benar bahwa pembelajar kadang kala lebih sulit dari dunia pada nyatanya. Keadaan sulit itu membentuk kepribadian saya dan teman-teman yang waktu juga belajar di LKM.


Tapi saya yakin dengan pesan seorang Guru dari Barat “Bad weather left behind good timber”, yang maknanya cuaca yang buruk menyisakan pohon-pohon dengan kulitas terbaik. Generasi yang baik selalu terlahir dari kesulitan dan cobaan yang keras.


Itu sebabnya Jenderal Mc. Arthur berdoa untuk anaknya “Tuhan, berikanlahanak-anak saya godaan dan guncangan karena itu satu-satunya cara agar ia tumbuh menjadi jiwa yang kuat. Hadiahi anak-anak dengan cacian dan umpatan, karena itu bisa mereka rendah hati”.


Maka tak ayal pembelajaran di LKM akan selalu menyulitkan-namun berati, bahkan lebih berat dari kuliah di Fakultas masing-masing.


SAYA DAPAT MENULIS KARENA SAYA SUKA sekali berdiskusi. Saya gemar membaca. Meski saya bukan orang jenius. Hal itu saya lakukan atas dasar kecintaan. Maka jadilah suatu rutinitas atau habit.


Sesering itu saya menulis, sampai pada satu titik, sampailah saya pada suatu pola yang saya rumuskan sendiri dalam membuat tulisan. Saya jadi mengerti pola kalimat, gaya tulisan, serta sajian bahasa. Semua saya dapatkan secara natural. Karena sering berlatih, maka saya merasa menulis itu hal yang menyenangkan.


Saya mengistilahkan semua itu bahwa seorang penulis harus terus berlatih sampai ia menemukan sense−satu kondisi dimana ia bisa menciptakan dunia menulisnya sendiri, dengan kata lain ia haruslah mempunyai karakter.


Sense dalam bentuk lain adalah kepekan dan insting yang melekat erat sekali−seperti nadi, seperti nafas, seperti dara− yang keterkaitannya sangat erat sekali dengan karya-karyanya kelak. 


Tapi diakhir saya ingin menekan proses penting yang tidak bisa lepas kalau kita ingin menulis adalah MEMBACA DAN BERLATIH.



continue reading Dibalik Pikiran, Tersimpan Tulisan