Tampilkan postingan dengan label Journalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journalism. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

Riset, Jurnalisme, dan Kampung


Sebuah Tronton bertuliskan “TNI Angkatan Darat” memasuki wilayah desa Cisalak, Sukabumi. Pada suatu pagi yang hampir beranjak siang. Suasana desa terlihat sibuk. Para petani menanam padi. Sementara anak-anak terlihat berjajar di lapangan sekolah. Ojek-ojek berbaris menunggu giliran penumpang. Dan Warung kopi terlihat masih sepi. Ibu-ibu sibuk menjejali pasar yang tumpah sampai ke bibir jalan. Inilah suasana awal yang kami lihat ketika kali pertama bertandang dalam acara Bakti Sosial Pendidikan, tahun 2009 lalu.

Dalam tempo 5 hari dari situ, kegiatan berjalan sesuai rencana yang kami rumuskan di Kampus. Ada lomba, pembagian sembako, bermain bola, sampai nonton bareng dengan warga masyarakat. Ada yang spesial dari Baksospend kami, yaitu melakukan riset kecil di wilayah desa tersebut. Untuk melihat potensi masyarakat sekitar dengan keadaan apa adanya. memang agak bingung, dalam waktu yang relatif sempit. Kami mencoba melakukan itu, tanpa persiapan analisis sosial sebelumnya.

Alhasil banyak yang kita dapat, mulai dari relasi perusahan dan buruh desa yang belum juga berbuah kelayakan upah, sampai ke potensi tani dengan hasil kebun melimpah, ada juga yang menemukan sektor konservasi batu bata yang banyak diminati masyarakat industri kecil disana. Infrastruktur yang kurang memadai berjalannya sektor ekonomi desa. Dan masih banyak lagi yang lain. Itu semua hasil dari pengamatan risel lapangan yang dilakukan kami.

Sampailah kita di suatu malam ketiga dari 5 hari itu. Suasana malam itu dingin, sampai menusuk tulang, dan hidung hampir tertutup sesak karena menghisap embun. Masih saja sekelompok kita berbincang soal hasil penelitian, Baksos Pendidikan.

“Baik, kesepakatan kita bagamana soal tulisan ?” tanya Udin
“Bagaimana kalau dikumpul seminggu setelah tiba di jakarta” Astri menjawab dengan mata sayu.

Sementara peserta lain yang rapat terlihat kurang antusias karena lelah seharian menghabiskan waktu dengan lomba bersama Siswa SDN Cisalak 01 Pagi.

Tiba-tiba dari pojok lingkaran rapat. Terdengar pekik teriakan yang cukup menggelegar. Memecah kesunyian malam yang syahdu.

“Setuju……!!!!!”

Peserta rapat lain dengan mata yang tiba-tiba melek, tertuju pada sosok lelaki kental, berbadan gemuk. Sebut saja Babeh, yang pada saat itu mencoba membangunkan peserta rapat yang tertidur, katanya.

Semua tertawa. “Hahahahaha….”

*****

 
Seminggu sudah. Selepas Baksospend kami tiba di Jakarta. Dalam kumpul writing day sore itu, hanya dihadiri pengurus yang tidak lebih dari hitungan 1 tangan 5 jari. Sedikit memang, tapi kami tidak pernah menghiraukan itu. karena prinsip kami bahwa kualitas tidak diukur dati berapa jumlahnya, tapi pembahasan dan partisipasi di dalamnya. Toh, bangsa ini juga hanya dirumuskan oleh founding fathers yang tidak lebih dari jumlah peserta kegiatan sore itu.

“Mana yang lain ?” saya bertanya
“Ga tau kak, pada kecapean kali, habis baksos” Jawab Dini, salah seorang staff divisi penulissan.
“Kecapean kok sampe seminggu” cetus saya.
“Itu sih namanya malas datang aja” Tengku ikut menimpali, lelaki muda yang baru saja menghabiskan waktu 4 bulan di kalimantan untuk bakti pendidikan.

Apapun alasannya, saya kira kita telah keluar dari komitmen jika caranya seperti ini. Kecuali memang terlalu uzur. Akhirnya, kegiatan sore itu pun berjalan apa adanya. Sementara tema umumnya adalah membahas tindak lanjut tulisan hasil penelitian Baksospen di Sukabumi.

“Bagaimana tulisan ? tanya saya
“wah, zah.. Ga tau deh anak-anak” babeh bernada pesimis

Saya pun sudah terlanjur paham, penyakit anak LKM itu kan sering lupa karena sibuk sana-sini, agendanya banyak. Di LKM saja proker menumpuk, ini belum kelar, yang itu sudah mau jatuh tempo. Alhasil, semua tidak maksimal. Dan parahnya, kita jarang sekali punya waktu untuk belajar, membaca buku, dan menulis.

Selain itu anak LKM juga sering ngaret, janji datang jam 10 pagi, mulai rapat jam 1 siang. “ampun deh….”

Satu penyakitnya, malas datang kalau tidak di sms. Kalau anda tidak percaya. datanglah sekitar jam 10 pagi. Senyap. Atau fenomena sehabis UAS. Anak-anak pasti sibur tidur di rumah, “lho”. Tidur kok sibuk ya ?? Alasannya ketika UAS masih rasional, belajar. Tapi cobalah anda pikir. Apa rasional tidak datang ke LKM dengan alasan “sedang libur kak”, yang jelas saya hanya bisa mengelus dada dalam-dalam.

Kembali ke topik tulisan riset, sore itu saya memaklumi pengumpulan tulisan mungkin saja telat. Ada yang belum koordinasi. Ada yang datanya hilang. Ada yang tinggal nulis saja. Saya pun menunggunya. Sampai hitungan hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Tulisan tidak juga terkumpul. Obrolan teman-teman di LKM pun sudah keluar dari tema riset baksos. dan berlanjut ke acara lain.

Dari situ saya mengubur dalam-dalam kesepakan awal yang dirumuskan bersama. Karena sudah basi berbicara itu. Dan himbauan saya sudah tidak lagi didengar. habislah lembaran cerita. Tinggal kita ambil pelajaran.

******

Sepenggal kisah diatas, sengaja saya kutip. Agar nasib riset nanti tidak demikian. oleh karenanya saya akan memberi sedikit pengantar ke arah format riset di Sukabumi nanti. Akan saya awali dengan sebuah analogi dasar yang membawa anda untuk berpikir menggunakan imajinasi, mari kita mulai kawan.

Bayangkan seolah-olah anda ada disana saat ini. Tempat LKM mengadakan Baksospend di kampung tugu, cibadak-sukabumi. Anda ditugaskan melakukan riset. mengumbulkan fakta dan data. Mengamati latar tempat, detil sekali, untuk keperluan narasi yang seksi. Kemudian merumuskan masalah. dan mewawancarai warga desa. Merekamnya. Kemudian mencatatnya. Tidak lupa mendokumentasikan foto. Agar emosi ketika menulis nanti tetap aman.

Kemudian itu semua anda olah, sampai ketemu rumusan masalahnya. Dalam bahasa Ansos, masalah sepadan dengan konversi, yaitu perubahan. Bila tidak ada masalah krusial, cobalah lirik apa yang menarik dari hasil riset anda, keunikan. Misalkan dalam alatar pertanian, ada petani menanam dengan cara yang khas, atau dalam alatar agama masyarakat melakukan ritual yang tidak biasa. itulah titik poin pengamatan, dan seterusnya anda bekerja dalam selimut “keunikan” dan masalah. Fokuskan.

Setelah itu, lakukanlah sebuah alur plot yang bertutur. kenapa harus begitu ? karena otak kita bekerja sistematis. Ibarat kata “omne vivum ex vivo” dalam bahasa pembaca adalah kita memahami sesuatu bagian tulisan karena ada penjelasan sebelumnya. Maka dari itu kita haru melurai seruntun dengan gaya bertutur. Seperti anda sedang mengurai sebuah cerita. Titik poin disini adalah inti ceritanya nanti bagaimana. cara menyusunnya seperti menguruskan satu demi satu fakta-data anda. “habis begini-begitu-terus akhirnya akan seperti ini…”, begitulah kira-kira jika saya ibaratkan.

Setelah anda melakukan olah data menjadi plot, berarti anda sudah menempatkan serpihan fakta-data tadi ke tempat yang seharusnya. Cobalah mulai berimajinasi dengan kata-kata yang akan anda tulis nanti. Misalkan memikirkan tentang rumusan aforisma pendamping fakta. dan seterusnya.

Setelah berimajinasi dengan kata, cobalah untuk menuliskannya. secepat mungkin.  Sebagus mungkin. hal penting adalah memasukkan jiwa dan emosional anda. Ingat ! menulis harus lepas dari beban tuntutan ini; tulisan harus bagus, tulisan harus panjang, tulisan harus cepat saji. Karena anda akan bekerja dalam tekanan. Menulis saja dengan jiwa yang lepas. Tapi berpikirlah tentang substansi tulisan anda. Maka tuntunan yang tadi menghantui anda akan nurut, dan bukan menjadi ancaman.

Hal penting, setelah saya melihat rundown acara Baksospend. waktu menulis paling rasional HANYA 3 JAM SAJA. Kecuali anda merelakan waktu tidur malam itu.

*****

Sekarang izinkan saya berbicara agak teoritis tentang tulisan. Sebelumnya saya ingin anda tahu. Bahwa nanti tulisan yang kahirnya dibuat untuk format riset adalah feature atau gaya tulisan bertutur. Selama saya mendalami gaya tulisa itu, ada dua jenis yang sekiranya dapat saya jelaskan. Pertama jenis feature panjang dengan liputan mendalam kira-kira ukurannya dari 30.000-70.000 karakter. Kedua jenis feature pendek sampai ukuran menengah kira-kira ukuran 7000 sampai 20.000 karakter.

Selain soal ukuran karakternya, cara liputannya juga sangat berbeda. kalau yang panjang memakai metode investigative reporting waktunya bertahun-tahun, kalau yang pendek hanya menggunakan metode liputan biasa waktunya relatif bisa hitungan hari-minggu-sampai bulan. Tetapi tetap berupaya menyeruak unsur menggali informasi dibalik kasat fakta. Kemudian menyajikannya dengan gaya bertutur kepada pembaca. Disitulah kenapa membaca feature lebih dapat diterima oleh banyak orang ketimbang laporan ilmiah dengan abstraksi, bisa-bisa melihat judulnya saja kita sudah kabur duluan.

Sekarang sudah satnya saya berbicara tentang jurnalisme ilmiah, yaitu suatu istilah yang saya kampanyekan semenja setahun lalu untuk LKM. Mengandui konsep hasil konvergensi antara dunia ilmiah dengan jurnalistik. Riset yang kalian lakukan nanti, di Sukabumi adalah salah satu jenisnya. Dalamnya riset, tulisannya jurnalisme, dan metodenya penggabungan antara ilmu liputan jurnalisme dengan konsepsi ilmiah. akhirnya adalah sebuah feature, sekali lagi feature.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika menulis sebuah feature. menurut Robert vare seorang lelaki paruh baya yang rambutnya memutih. Dia adalah seorang jurnalis The New Yorker dan The Rolling Stones. Setidaknya feature yang bagus harus mengandung hal berikut:

Pertama, fakta. Anda harus ingat, kejujuran adalah segala-galanya. Dan oleh karena itu fakta dikatakan kemurnian dari sebuah informasi. Sesuatu yang belum terkontaminasi oleh apapun, termasuk asumsi anda sendiri. dari fakta inilah anda berangkat menyusun satu demi satu mutiara di dalamnya objek reportase. Dia bukan pendapat anda, juga bukan kata-kata puitis berbentuk aforisma. Tapi fakta, adalah fakta, adalah fakta, adalah kebenaran, yang nyata.

Kedua, Konflik. Suatu tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya dengan konflik. Bila nanti anda menulis feature, sebaiknya pikir bagaimana memunculkan sengketa dalam tulisa itu ? konflik berarti masalah. Karena itu orang kemudian tertarik. Dan terus membaca tulisan anda. saya beri contoh, misalkan ada di kampus itu seorang pemuda yang menantang adat, mistis, dan sistem masyarakat. Pasti ada episode dalam hidupnya yang menegangkan. Maka sajikanlah.

Ketiga, Karakter. feature adalah sebuah narasi, dan oleh karena itu ia butuh karakter. karakter membantu pembaca mengingat cerita. ada karakter utama. Ada karakter pembantu. karakter utama seyogyanya terlibat dalam bagian besar cerita itu. Karakter pembantu adalh pendamping aktor utamanya, misal orang-orang yang ikut menginspirasi, membantu, sampai mendampingi. Semua dikemas dengan sajian yang tidak linier. Sisispi dengan kagetan.

Keempat, Akses. Anda seharusnya punya akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, buku harian, gambar, kawan, musuh, dan sebagainya. Dari situlah anda kemudian mendapatkan sekupas demi sekupas fakta. Maka cobalah untuk mencari itu.

Kelima, Emosi. Ia bisa rasa cinta. Bisa penghianatan. Bisa kebencian. Kesetiaan. kekaguman. Sikap menjilat dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita anda menjadi hidup. Seperti merasakan. Emosi juga bisa bolak-balik. mulanya benci, kemudian cinta. mungkin juga ada pergulatan batin. mungkin ada perdebatan pemikiran.

Keenam, Unsur kebaruan. tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama, basi. Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan dari unsur substansi dan bahasa. Substansi erat dengan angle, artinya beda dari penulis lainnya. Sementara bahasa berarti anda bermain pada diksi. Cobalah kemas perbendaharaan kata yang tidak lazim, agak sastrawi boleh, atau bahasa lisan, tetapi ingat kalau anda memaktubkan bahasa lisan tidak boleh berlebihan. ingat ini dunia literasi, sekalipun feature ia tetap tulisan.


continue reading Riset, Jurnalisme, dan Kampung

Sabtu, 28 Mei 2011

Menulis Feature: Dari Dekat Sekali


Menulis feature itu semudah kita berkata “Aaahhhhhh…..”

Setidaknya saya punya alasan sendiri jika feature jadi primadona dalam beberapa hal di organisasi ini. Ada dua alasan. Alasan pertama cukup rasional, karena feature mampu memikat pembaca untuk hanyut sampai ke bagian paling dalam, paling penting dari tulisan kita. Alasan kedua hanya main-main saja, karena feature cukup membuat saya enjoy menulis. Selepas mungkin. Tapi mengapa banyak yang sulit menulis feature ?
   
Menulis feature membutuhkan imajinasi yang sangat kuat dan detail. Karena itulah sebelum menulis feature, seorang reporter harus teliti terhadap objek liputan. Ketelitian harus dibarengi dengan kejelian. Karena kalau saja orang teliti, namun tidak jeli, yang terjadi liputan tidak akan efektif memilah fakta. Mana yang penting, dan yang buang-buang tenaga. Jeli itu perlu insting. Itu dibangun dari sikap kritis.
   
Dari proses liputan pada KREATIS, saya kira kendala kita ada pada kejelian dan ketelitian yang dianggap remeh. Disepelekan. Sehingga proses menulis jadi terganggu kekurangan banyak data yang tertinggal. Harus terjun kembali. Itu juga terhambat banyak kendala. Dari yang sifatnya pribadi, sulit mengatur waktu. Sampai kepada kendala birokrasi. Molor izin wawancara. Tidak bisa menemui nara sumber yang tepat.
   
Tapi kalau boleh jujur, realitasnya memang seperti itu. Di dunia nyata, semua hal mesti menemui kesulitan. Karena kita tidak bebas keinginan. Ada benturan disana-sini. Itulah masalah hakikinya. Semua ada resikonya. Hal yang bisa membuat kita bertahan adalah kuatnya kemauan. Kuatnya motivasi. Dan kuatnya tekad. Ini semua bisa diasah, kalau kita memikirkan hal positif atau keuntungan melakukan liputan.

Menulis Feature dari Dekat
   
Saya akan memulainya dari sisi bagian. Feature meiliki 4 (empat) bagian: Judul, Lead, Tubuh dan Ekor (ending). Semua harus diolah sedemikian rupa. Semenarik mungkin. Usahakan semua bagian berjalan terpadu. Saling melengkapi, dan yang paling penting adalah jangan bertele-tele pada cerita yang tidak penting. Sehingga hal itu mengaburkan inti feature yang anda tulis.
   
Feature berdurasi panjang, biasanya mencatat bermacam-macam fakta tentang pokok persoalan yang diamati. Setiap potong informasi sama halnya dengan sebenang “tali” dalam bagian besar yang dirajut untuk membuat “bahan” yang kuat, bagus, dan cantik.  Bahan itu adalah sebuah cerita dalam feature. Diantara sejumlah “tali” itu perlu ada transisi, yaitu “rekatan” yang membuat “tali” menjadi keseluruhan cerita yang menyatu. Tidak terpotong-potong. Atau menjadi bagian lain yang sama-sekali tidak ada hubungannya apa yang dibahas.
   
Goenawan Mohammad dalam buku Seandainya Saya Wartawan Tempo mencirikan transisi bisa berwujud satu kata, rangkaian kata, kalimat, atau mungkin paragrap. Ia punya dua tugas:

  1. Memberitahu pembaca bahwa anda pindah ke materi lain
  2. Meletakkan materi yang lain itu pada perspektif yang selayaknya

Penulis harus bisa memadu fakta-fakta menjadi pemaparan pendek-pendek yang satu sama lainnya direkatkan menjadi satu cerita.
 

Contohnya:

Para bikers telah memenuhi Lapangan Banteng sejak pukul 05.30 pagi, mereka berjumlah 300 orang yang tergabung dalam berbagai komunitas sepeda yang berdomisili di Jabodetabek. Mereka sengaja datang untuk meramaikan HUT Poligon yang ke-6. 
Selama berjalannya acara (ini transisi), HUT polygon yang ke-6 dimeriahkan oleh berbagai kegiatan, mulai dari art fermonce, sepeda hias, sampai stand komunitas yang dibuat oleh masing-masing kolompok pecinta sepeda.

Dari Judul sampai Ekor (ending)

Sampai disini, anda sudah mempunyai unsur-unsur lengkap untuk menulis feature, judul dan lead adalah kepala, struktur adalah kerangkanya, sementara ekor (ending) adalah penutup. Dan transisi adalah tali sendi yang mengikat unsur-unsur menjadi satu.
   
Penulis harus memakai teknik untuk menjaga agar semuanya berada pada garisnya yang padu. Meskipun banyak teknik yang membicarakan itu, tapi setidaknya Goenawan mohammad kembali menjelaskan dalam bukunya Seandainya Saya Wartawan Tempo.
  1. Spiral. Setiap alinea menguraikan lebih rinci persoalan yang disebut alinea sebelumnya
  2. Blok. Bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. Catatan: bila alinea terlalu panjang, potong saja menjadi beberapa bagian kecil.
  3. Mengikuti Tema. Setiap alinea menggarisbawahi atau menegaskan judul dan lead-nya

Usahakan untuk selalu membuat kalimat yang pendek dan tulisannya singkat serta sederhana. Untuk itu anda memulai menulis dengan berppikir sederhana, sehingga apa yang anda tulis, meskipun sulit tidak menjadi rumit bagi pembaca. 

Judul dan lead, harus menarik. Dalam istilah lain buatlaj dulu yang jenaka. Khusus untuk feature biasanya judul bersifat isitlah dalam konotasi tanda kutip. Atau punya istilah sendiri. seperti contohnya: Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan karangan Alfian Hamzah yang menceritakan perang gerilya di Aceh. Isitlah disekolahkan berarti dibunuh, agar orang GAM mengerti untuk tidak boleh melawan.

Contoh lain pada judul bersifat hal yang sepele namun mengundang tanya banyak orang. Seperti yang pernah dibuat oleh Budi Setyarso dengan judul Roger Roger Intel Sudang Terkepung. Judul tersebut berhasil meraih pengahrgaan karya jurnalisme terbaik.

Sedangkan lead, berfungsi untuk menarik pembaca dan membuka jalan bagi cerita dalam feature. Ada 9 teknik kategori lead. Lead ringkasa. Lead bercerita. Lead deskriptif.  Lead kutipan. Lead bertanya. Lead menuding. Lead menggoda. Lead nyetrik. Lead kombinasi. Dalam sekian banyak itu anda harus benar-benar jeli memilih lead sesuai dengan daya dukung tema feature anda.

Tapi ada hal lain yang perlu anda tahu, ada jenis feature yang tidak menggunakan lead. Itu untuk karakter feature yang sangat panjang. Digunakan untuk indepth reporting dan investigative. Tidak mengurangi nilai suatu feature. Karena pembaca tidak ditujukan untuk langsung mengerti. Tapi mendalami isi tulisan. Sampai habis.

Tubuh dan Ekor. Tubuh dalam berita sering diharuskan menggunakan piramid terbalik. Tapi tidak untuk feature. Karena semua bagian penting untuk dinikmmati sebagai sebuah cerita. Jadi cobalah untuk bertahan dalam narasi yang baik. Agar mudah melakukan dikotomi cerita menjadi alur yang rapih. Buatlah pembabakan. 

Pembabakan pada dasarnya adalah memudahkan kita berimajinasi dalam satu ruang yang fokus. Seperti anda mengikuti sebuah cerita dalam sinetron yang dibagi dalam beberapa episode. Pembabakan biasanya dibuat untuk tujuan agar anda mudah membuat alur cerita. Selain itu pembabakan menyelamatkan anda dari beban menulis feature dengan 20 ribu karakter. Itu akan lebih meringankan.

Ekor atau ending. Tidak muncul tiba-tiba. Sebab mulanya ia ada karena cerita sebelumnya. Kenapa perlu ending ? karena sebuah cerita butuh penyelesaian, atau klimaks. Ada emosi yang harus disentuh pada akhirnya. Sehingga feature terkesan lebih menarik. Beberapa jenis penutup:
 
Penutup ringkasan. Penutu ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.

Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah tergolak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga.
 
Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara krologis. Dalam hal ini ending adalah puncak dari cerita. Kalimat yang sering menjadi andalah disini adalah “Pada akhirnya….”

Kisah Pak Sukirman
 
Setelah anda memiliki alat-alat dasar untuk membuat feature, mari kita belajar menulis feature dari kejadian ini: Dalam perjalanan sepulang dari kuliah. Anda seringkali melewati sebuah taman di pinggir kota. Sebut saja Taman Kejora. Sesaat turun dari angkot. Kebetulan anda pulang larut malam. Sekitar pukul 21.00 setiap hari karena harus mampir di organisasi. Mengerjakan beberapa tugas atau mengikuti kegiatan.
   
Sambil berjalan menuyuri taman itu, anda membeli gorengan yang di jual penjaja kaki lima. Demi meredam suara perut yang keroncongan. Diselang obrolah ringan, anda menghabiskan gorengan yang dibeli barusan. Sejenak anda menoleh ke tengah taman dan melihat seorang lelaki tua menyapu dan membersihkan sampah yang terserak.
   
Rasa penasaran itu kemudian membuat anda bertanya kepada penjaja kaki lima tentang lelaki lelaki tua yang menyapu taman. 
Pak, apa kenal dengan lelaki tua itu ?
Itu sih pak Sukirman de, penjaga Taman Kejora
Ohh, begitu ya pak…
   
Kemudian tiba-tiba anda teringat dengan tugas yang anda kerjakan terkait kegiatan diorganisasi. Membuat liputan tentang Taman Kota. Sontak anda berpikir, ini adalah suatu kesempatan emas.
   
Tanpa pikir panjang, anda langsung mendatangi pak Sukirman, penjaga Taman Kejora. Kemudian mulai menyapanya pada pukul 09.30. anda memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa yang ditugaskan untuk meliput Taman Kota dalam rangka penelitian.
   
Singkat cerita, anda meminta informasi tentang banyak hal seputar Taman Kejora dari tema liputan yang sudah ditentukan.
Taman ini kotor, dan petugas balai kota tidak pernah membersihkannya. Maka saya berpikir harus ada orang yang membersihkannya. Dan saya mulai dari pribadi saya

Nah, anda telah bertemu orang yang tepat untuk memandu liputan anda. Karena anda pikir Pak Sukirman adalah orang inti yang bisa menjelaskan segala hal, dan dia adalah pelakunya sendiri. Kemudian anda mulai berbicara tentang kesediaanya menjadi tokoh dalam cerita feature anda.
   
Lalu Pak Sukirman menolak “Saya tidak ingin dimuat di majalah, karena saya takut orang lain jadi mengira saya pamrih, dan privasi kepribadian saya tidak terjaga. Saya malu” begitu argumennya.
“Saya maklum,” kata Anda. “Tapi saya harap bapak bisa berpikir kembali, karena masyarakat perlu mengembangkan semangat seperti itu, dan bapak menjadi teladan. Mungkin akan banyak nanti yang mulai bangga pada lingkungan mereka, dan mulai melakukan pekerjaan untuk kepentingan masyarakat, turut membersihkan lingkuangan taman ini juga”

Kemudian pak Sukirman mempertimbangkan alasan anda, bimbang sebentar, galau terlihat, tapi akhirnya setuju.

Kalau engkau pikir ada manfaatnya, baiklah… ujar pak sukirman
Tentu !! anda jawab.

Lalu anda mulai bekerja dengan bertanya nama, umur, dan tempat tinggal. Bertanya tentang keluarga. Dan kisah kenapa pak sukirman bisa menjadi penunggu taman kejora. Apa alasannya belliau mau melakukan tugas membersihkan sampah. Serta bertanya tentang seluk beluk taman ini, apa saja aktivitas yang biasa dilakukan di taman ini, serta hal-hal penting yang pernah terjadi di taman ini.
   
Keterangan-keterangan beliau kemudian dirangkai kedalam bentuk outline agar menjadi alur cerita yang baik. Menentukan fokus dan hipotesis. Setelah itu anda berpikir untuk mulai melihat sisi-sisi yang kurang, baik data maupun fakta, itu yang kemudian jadi bekal penelusuran selanjutnya.
   
Anda memulai penelusuran dari tingkat bawah samapi level paling atas. Tingkat bawah dimulai dari orang-orang yang ada di taman. Penunggu, pengunjung, pedagang, dan petugas. Yang anda tanyakan pastilah seputar taman. Agar tidak kemana-mana. Arahkan pada dua hal, masalah dan keunikan. Itu saja.
   
Tingkat menengah anda harus meminta penilaian seorang pakar yang terkait dengan informasi yang anda dapat dari orang-orang disekitar taman itu. Sifat pertanyaan lebih general. Ideal atau tidak ideal. Dan tingkat level paling atas adalah birokrasi pemerintahan. Dimana anda harus mengkonvirmasi semua data dan fakta yang didapat dari lapangan. Ini terkait informasi yang tidak ideal. Bagaimana tanggapan pemerintah serta solusinya.
   
Kesemuanya itu anda kemas lagi dalam tulisan. Tapi sebelum menulis anda terlebih dahulu pada outline yang pernah dibuat pada awal perumusan. Catat informasi yang kurang disana. Luruskan menjadi alur cerita. Tarik pokok ceritanya. Buat menjadi pembabakan. Ada empat sejata yang terus harus dipegang, yaitu: FOKUS, NARASI, ANEKDOT, dan KUTIPAN. Saya jelaskan beberapa. Ankedot maksudnya anda harus bisa membuat lelucon. Dan kutipan maksudnya adalah kata-kata atau statemen dari nara sumber. Ini harus diolah seimbang dengan narasi. Dan fokus menjadi benang merahnya.
   
Selamat menulis…..!!!
   
continue reading Menulis Feature: Dari Dekat Sekali

Senin, 23 Mei 2011

Antara Ekonomi, Jurnalisme, & Hal-hal yang Belum Selesai


Setidaknya untuk ukuran mahasiswa dari bidang ekonomi, kegiatan yang tidak dapat saya lepaskan adalah melakukan analisis. Muaranya direpresentasikan dalam sebuat “tulisan”. Karena itu aktivitas saya selama ini tidak jauh-jauh dari kesibukan menulis, suatu kegiatan yang mengaitkan diri untuk selalu belajar banyak hal. Karena ekonomi tidak pernah berhenti di ruang vakum yang membahas dirinya an sich, ia selalu berhadapan vis a vis dengan dikotomi lain yang saling berhubungan. Sebuah realitas harus saya lihat secara skeptis, jika merenungkan melalui fenomenologis ekonomi di bangsa ini.

Ekonomi dan hal-hal lain adalah kesatuan yang padu. Karena mengaitkan ekonomi dengan bidang lain secara implisit telah masuk dalam ruang hukum teori-teori ekonomi sebagai sebuah acuan dasar. Konsep itu saya kenal dengan istilah “caretis paribus”. Sayangnya hal tersebut di bahas secara sekilas, mengenalnya sebatas nama dan istilah, dan tidak pernah dijadikan suatu sub-bagian khusus yang ditelaah secara mendalam. Dosen-dosen menganggap ini sebagai suatu faktor X yang misterius. Sebab wujudnya tidak pasti, sangat relatif. Tidak ada ukuran matematis yang bisa merabanya dari dalam.

Cateris paribus dalam kinerja teoritis adalah segala hal diasumsikan selalu tetap dalam kondisi apapun, meski dalam kenyataan hidup ,semua tidak akan berjalan begitu. Firmanzah, seorang guru besar ekonomi UI dalam suatu acara yang pernah saya temui pernah berkata “Dalam preakteknya, kondisi ekonomi tidak pernah mengalami kondisi cateris paribus !”. Lalu saya berpikir, 4 tahun saya duduk di kelas hanya untuk membayangkan pseudotheory.Itulah alasan saya bergelut dengan dunia kajian dan tulis-menulis untuk bisa memaknai istilah misterius itu dengan kaitan sebab-musabab fenomena ekonomi dan hal-hal lain yang tidak selesai.

Dalam tamsil saya di kehidupancateris paribus adalah tidak bersifat tetap. Ia adalah bentuk lain yang berubah dalam pengaruhnya ke perekonomian. Jadi, teori ekonomi dengan catatan pinggir cateris paribus harus dimaknai ulang pada kontekstualisasi kondisi yang relevan pada zaman, situasi, ruang, juga iklim. Bentuk dari cateris paribus adalah dikotomi ilmu ekonomi lain yang sepadan dan tidak dapat dipisahkan, juga tidak pernah selesai. Dalam benak saya hal itu serupa dengan bentuk-bentuk kebudayaan, politik, sosial, dan science. Dan semuanya punya pengarus yang dinamis dalam ekonomi.

Menulis membuat kita belajar dari banyak hal. Saya seringkali mengistilahkannya dengan “Merangkum isi kehidupan…”. Bagaimana tidak ? ketika menulis, kebanyakan hal yang dituangkan adalah fakta, nilai, serta makna yang kita jalani sehari-hari kemudian direfleksikan. Dalam buku Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan misalnya, berbicara tentang karut-marut kualitas jurnalisme Indonesia. Isinya tidak jauh-jauh dari ketiga hal (fakta, nilai, dan makna) yang dirangkum. Titik tolaknya adalah bagaimana kemudian kita menyikapi hidup dan kehidupan jurnalisme dewasa ini.

Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa saya menulis ? Tentulah agar tulisan dibaca khalayak ramai sehingga dapat dijadikan bahan referensi atau tambahan pengetahuan, minimal jadi pertimbangan dalam menentukan sikap sehari-hari supaya lebih arif dan bijak. Bukan soal dihargai. Menurut Andreas Harsono dalam bukunya Agama saya adalah Jurnalismme mengatakan “Menulis itu perlu tahu dan berani…”. artinya seorang penulis adalah orang yang lebih dulu tau sebelum pembaca, jangan “sok tahu”. Juga berani berargumentasi dengan perbedaan pandangan, dan tentunya bertanggung jawab atas apa yang ditulis.

Konsekuensi terbesar dari seorang penulis adalah dituntut untuk selalu memberi pengetahuan dan informasi baru yang belum diketahui pembaca. Dari situ kerja keras yang riil dari seorang penulis berbuntut pada keharusan menekuni sesuatu untuk membaca segala hal. Dan tidak henti-hentinya berpikir mencari celah untuk mengambil segi yang belum pernah dijamah seorang pun. Lalu dalam prakteknya banyak hal yang mesti dibayar oleh penulis seperti tidur larut malam, kehabisan uang karena harus beli buku, juga pusing memikirkan masalah yang belum terpecahkan.

Di luar semua itu, bagi saya menulis adalah wujud pengabdian dan upaya memberikan sumbangsih pemikiran sebesar-besarnya demi kepentingan masyarakat. Kepentingan peradaban. Sungguh saya tak akan membiarkan mekanisme gagasan mendekam bisu di otak.Ini adalah persoalan makna hidup, untuk apa ? untuk siapa ? lalu relakah kita menghabiskan hidup tanpa memberi sesuatu pun berupa karya tulisan. Seperti Pramoedya Ananta Toer yang berkata "Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian". Ingat dunia dan peradaban ini bisa maju karena buku, karena tulisan !

Dari Outline ke Tulisan

Dalam sub ini, saya akan langsung menukik pada pembahasan jurnalisme. Saya mengklasifikasikannya dalam kegiatan pokok jurnalisme yang terdiri dari beberapa babak, yaitu: perencanaan, reportase, penulisan, dan penyuntingan. Adapun prosesi layout dan percetakan biasanya dipisahkan dari proses jurnalisme ke bagian lain dalam divisi organisasi, seperti bagian layouting dan percetakan. Namun tetap satu kepaduan. Sedangkan jeda dari setiap tahapan selalu dimonitoring dengan verifikasi yang membuat tahapan tersebut berjalan sesuai rencana, bila tidak dicari penyelesaiannya secepat mungkin.

Pada awal kerja jurnalistime yang pertama, dari pengalaman saya di redaksi selalu melakukan perencanaan dengan rapat redaksi, dinamikanya tidak jauh dari kecepatan percepatan, juga perdebatan. Dalam rapat tersebut dibahas hal yang umum dengan menentukan tema pembahasan dan isi rubrik, serta melakukan strategi reportase sesuai kebutuhan tema yang diambil. Biasanya yang menjadi ukuran pada proses perencanaan adalah informasi awal. Karena tidak mungkin melakukan reportase lapangan tanpa pengatahuan awal. Sama saja bertindak tanpa rencana.buang-buang tenaga. Juga tidak efektif dan efisien.

Oleh karenanya, pada tahap perencanaan biasanya saya menekankan pada pola pengumpulan informasi awal sebanyak mungkin. Referensi narasumber, alamatnya, sepak terjangnya, terkait tema adalah pendalaman materi. Baru kemudian dibahas untuk memilah mana yang relevan dan tidak. Teknik menemukan informasi awal juga beragam, dari pencarian via internet, kalau dirasa belum cukup, sampai ke lobi-lobi rekan atau orang yang tahu tentang informasi berkaitan tema yang ingin diangkat. Kadang juga sampai datang ke lokasi tanya sini-sana. Setelah informasi awal terkumpul, kita jadikan itu sebagai modal untuk membuat outline, yaitu gambaran besar dengan menggunakan metode mind mapping.

Ketahapan berikutnya bersamaan dengan membuat outline, saya biasanya terlebih dulu menekankan proses pada fokus yang ingin dibahas. Caranya dengan menarik hipotesis. Atau asumsi sementara dengan satu atau beberapa pertanyaan. Hal ini memudahkan saya untuk monitoring dan penyuntingan naskah. Juga mencegah agar proses reportase tidak berjalan keluar dari ketentuan yang dibutuhkan. Semua menginduk pada outline. Seperti dikatakan oleh Goenawan Mohammad dalam buku Seandainya Saya Wartawan Tempo bahwa hal yang membuat kita selamat adalah membuat outline.

Tahapan kedua adalah reportase atau peliputan. Sering diistilahkan dengan “belanja” bagi para jurnalis. Sedangkan menulis adalah proses “memasak” hasil belanjaan. Korelasi pada tahapan ini selalu terkait dengan perencanaan, namun konteksnya tetap fleksibel. Dengan cara dan metode apapun, reportase selalu menyesuaikan pada keaadaan di medan yang diliput. Reporter biasanya harus memutar otak untuk membuat nara sumber memberikan keterangan yang akurat dan dapat menjawab pertanyaan secara memuaskan. Dari pengusaan ilmu kejiwaan sebagai asimilasi memahami lawan bicara, sampai pada pemahaman materi dengan istilah juga statement nara sumber.

Sebagai reporter, tentu kinerjanya selalu dipatok pada deadline. Untuk itu seorang repoter harus tahu persis kapan ia harus menulis dan selesai. Di tengah masa deadline itulah, sang reporter umumnya (baru) melakukan kerja reportese, transkrip hasil wawancara dan kemudian membuat susunan menjadi sebuah tulisan. Itu yang biasa dilakukan. Dan seringkali terjadi deadlock, atau situasi yang buntu. Bekerja dalam tekanan sering tidak baik hasilnya. Belum perkara teknis yang seringkali mengganggu, seperti komputer tiba-tiba ngadat, lupa menyimpan catatan, dsb.

Namun, cobalah sejenak berpikir dan bertindak “melampaui struktur”. Sebagaimana dikatakan teman saya Niam, Pemimpin Redaksi Jurnal Balairung UGM yang mengutip Bill Ryan, wartawan The Hartford (Conn.) Courant. Ia sudah mulai menyusun tulisan sesaat dalam perjalanan selepas wawancara. Papan ketik dan monitor dibawanya dalam pikiran. Juga dilakukan Don Fry, ahli dari Poynter Institute for Media Studies, salah satunya. Sesuai penuturan Luwi Ishwara, “Ia menyusun ceritanya ketika meliput. Ia bertanya pada dirinya bagian-bagian apa dan urutan yang ingin ditulis. Ia juga memikirkan berbagai pertanyaan yang perlu jawaban bagi pembaca dan bagaimana urutannya.”

Untuk itu, kita perlu alat bantu berupa outline wawancara. Bentuknya poin-poin pertanyaan yang dieksplorasi secara in-depth (mendalam). Apa itu wawancara yang in-depth? Wawancara ini, tak banyak yang memahaminya, sederhananya sekadar menjawab subpertanyaan dari pertanyaan besar yang sebelumnya sudah kita tentukan. Tidak banyak, cukup empat sampai enam pertanyaan, tapi dari yang sedikit itu kita akan bongkar habis dari data lapangan dan ucapan-ucapan narasumber. Intinya, peliput harus jeli melihal hal yang disembunyikan nara sumber, serta tahu rahasia sebelumnya dari keterangan informan lain.

Singkat kata, yang tercatat dalam kertas pegangan wawancara kita adalah pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dari ucapan si narasumber. Bukan inti perkataan yang disampaikan si narasumber. Karena kalau tidak demikian, bisa-bisa kita keluar dari plot yang sudah tersusun rapi dalam catatan, maupun plot yang sudah terpatri menurut logika pikiran kita. Nah, dari situlah bagian-bagian yang urut dalam tulisan dapat dipetakan. Bukankah menulis itu sekadar merunut kalimat dalam paragraf demi paragraph ? Bukankah dalam setiap paragraf itu terdapat masing-masing satu poin penting yang mestinya tak berkali-kali diulang dalam paragraf-paragraf selanjutnya?

Di sini diperlukan outline lagi, yakni outline tulisan. Ini pengembangan dari outline wawancara. Bedanya kalau outlinewawancara ditujukan untuk keperluan liputan, jika outline tulisan untuk menata gagasan pokok yang akan ditulis. Penulis yang mahir memang tak perlu menuliskan outline tulisan di atas secarik kertas. Tapi ia sebenarnya selalu punya outline yang tertata rapi dalam pikirannya. Tinggal kita mau menulis dalam bentuk straight news, hard news, ataukah feature. Terkait dengan tiga jenis berita tersebut, bisa sangat ditentukan oleh kecenderungan media, karakteristik rubrik, dan “referensi” estetika sang penulis.

Jenis straight news atau berita lugas yang ditulis tak sampai pada terpenuhinya unsur 5W+1H. Umumnya cukup menuliskan unsur 5W (who, what, when, where, when). Tak lebih. Itu yang membedakannya dengan tulisan hard news, yang lazim dipakai oleh koran harian dalam laporan utamanya. Kedua jenis berita ini dapat digolongkan dalam berita lugas, tapi hard news lebih panjang dan detil, hingga dirasa wajib menyibak unsur how. Bahkan sampai ditambahkan unsur so what (lantas apa?), yang berarti efek dari sisi perkembangan peristiwa yang diberitakan sekaligus terhadap para pembaca.

Sementara itu, jenis feature (atau fitur) merupakan jenis berita yang bertutur. Ia menarasikan kisah. Rasa-rasanya ketika menulis feature, reporter seketika juga seorang penulis novel. Tapi tetap, feature bukan fiksi, ia faktual. Pada hampir seluruh tulisan, yang dikedepankan adalah sisi human interest, sedikit lepas dari nilai-nilai berita yang lainnya. Karena itu, boleh dikatakan bahwa dalam feature, yang ada hanyalah nilai cerita, bukan nilai berita. Jenis tulisan macam ini bisa dibaca dalam antologi buku Jurnalisme Sastrawi. Juga biasanya featuredipakai untuk jenis in-depth reporting dan investigative reporting. Liputannya memakan proses panjang.

Meski terdapat beragam gaya penulisan, setiap laporan jurnalistik mesti memenuhi dua hal. Pertama, secara substansi, ia sudah semestinya menampung nilai-nilai berita yang sudah ditentukan. Dalam buku-buku panduan jurnalistik, disebutkan banyak nilai berita. Tetapi, setidaknya terdapat empat nilai berita yang saya kira cukup buat dijadikan indikator kelayakan tulisan. Ada urgency (penting dan mendesak), consequency (pengaruh), timeliness (keaktualan/saat yang tepat), dan proximity (kedekatan, baik fisik maupun psikologis). Jika diindonesiakan dan disingkat, empat nilai berita itu akan berbunyi SUKA (signifikansi, urgensi, kedekatan, aktualitas).

Kedua, menaati rancang bangun tulisan yang lazim. Terdiri dari judul, lead, dan tubuh tulisan. Lead itu kail. Ia ditulis dengan tujuan menarik pembaca untuk melanjutkan pembacaan dan membuat jalan supaya alur tulisan menjadi lancar. Untuk pemahaman lebih lanjut, bisa dicermati buku Seandainya Saya Wartawan Tempo, “kitab suci” para wartawan Tempo. Selanjutnya, tubuh tulisan terbagi dalam bagian pembuka, isi, dan penutup. Pembuka berfungsi untuk memenuhi unsur 5W, isi menceritakan kronologisnya, sementara penutup bisa diisi dengan pernyataan sikap suatu lembaga atas isi tulisan. Sangat tergantung dari ideology dan nilai yang dipegang. Tapi yang pasti harus independen.

Saya simpulkan, bahwa proses pembabakan jurnalisme (perencanaan, reportase, dan penulisan) tidak terlepas dari outline, karena dengan itu kita dan pembaca bisa dengan cepat dan tepat mendapatkan apa yang kita inginkan.

Penyuntingan: Menangkap Kesalahan


Prosesi paling ujung dari penulisan adalah penyuntingan. Sama dengan editing dalam bahasa lumrahnya. Singkatnya dalam penyuntingan yang harus dilakukan adalah menjerat kesalahan agar tidak lolos dari pengamatan kita. Jika hal itu terjadi, maka fatal akibatnya. Maka dari itu, jika perlu pelototilah setiap kata demi kata seolah-olah “musuh” anda yang menyabot tulisan anda. Kalau ada kemungkinan salah, sekecil apapun, ceklah kata itu sampai anda yakin bahwa itu sudah benar, atau harus menggantinya. Lakukanlah berulang kali.

Garis besar editing terdiri dari dua hal. Pertama, edit isi. Pada tahap ini, hal-hal yang layak dicurigai dari tulisan terkait dengan akurasi data, akurasi narasumber, logika, alur, dan segala yang menyinggung isi tulisan. Kedua, edit bahasa. Kita menyunting pilihan kata atau diksi, akurasi ejaan dan penamaan, gaya bahasa, sintaksis, dan segala ihwal kebahasaan. Melihat dua pembagian ini, seorang editor selayaknya memang jadi orang yang “lebih tahu”, baik secara wacana maupun kebahasaan. Setiap penulis, dan tentu saja editor, mesti mengikuti perkembangan mutakhir kebahasaan. Ia bukanlah milik mahasiswa Sastra.Semua bisa.

Dalam media, menyunting juga berarti menyesuaikan jumlah karakter tulisan dengan space yang tersedia. Penulis berkewajiban untuk menambah jumlah karakter tulisan jika kurang memenuhi, atau memotongnya jika meluber. Editor juga berhak memotong tulisan jika dibutuhkan. Mengapa otoritas editor tampak lebih besar dibandingkan penulis? Ya, karena editor memang dipilih dari orang yang lebih dahulu (atau lebih lama) berkecimpung dalam lembaga (media) yang bersangkutan, sehingga dianggap sebagai orang yang lebih tahu kebutuhan media sekaligus kualitas media. Asal, segala yang dilakukan editor harus sesuai dengan kehendak penulis. Ada kesepakatan di situ.

Kemahiran menyunting sangat ditentukan dari seberapa sering kita menulis, untuk kemudian membaca kembali keselurahan tulisan buat diedit. Ini untuk dipraktikkan, bukan diceramahkan. Sampai kapan kita selesai mengedit? Tanda-tandanya yakni sampai kita hafal betul tulisan kita, kata per kata, lantaran saking berkali-kalinya kita mengulang membaca tulisan karena was-was, jangan-jangan ada yang luput tak tersunting. Sudah. Kita benar-benar berhenti menulis seketika itu. Sampai-sampai tatkala media hangat tercetak, bagi penulis, tulisannya tidaklah lagi bernuansa hangat.

Hal-hal yang Belum Selesai

Tulisan adalah jalan menuju jawabannya. Tetapi jawaban tidak harus satu, atau otentik kebenarannya menurut pemahaman subjektif satu orang atau golongan tertentu. Ia bisa saja “relatif”.  Karena di dunia ini, segala sesuatu tidak memiliki jawaban yang pasti. Semua memiliki ruangnya masing-masing. Kebenaan ada pada sudut pandang yang berbeda-beda padakadar besar-kecilnya, serta ukuran yang tidak pasti. Menurut siapa ? atas dasar apa ? adakah kesesuaian untuk setiap kondisi? Namun yang paling penting adalah kebenaran harus sesuai dengan fungsinya.

Hal-hal yang belum selesai adalah sesuatu yang seringkali tidak dipirkan. Disepelekan. Bahkan diacuhkan. Padahal jika kita kaitkan, hal tersebut akan mengacu kepada apa-apa yang belum diistilahkan dalam makna simbol hidup itu sendiri. Penandaan maksudnya. Bahkan ketika Newton menemukan teori gravitasi pada saat apel jatuh dari pohonnya, itu adalah jalan dari sesuatu yang tadinya hal-hal yang belum selesai.

Albert Camus mengatakan, pada dasarnya menulis adalah suatu upaya menjelaskan aburditas kehidupan. Alih-alih demikian menulis telah menjadi daya-upaya manusia membauat sejarahnya sendiri. menjadi raja atas dunianya. Berkuasa atas pemikirannya. Karena menulis telah menjadi suatu mediasi dimana pikiran dan dialektika implementatif itu berlangsung. Mari menulis. Mari berkarya !!
continue reading Antara Ekonomi, Jurnalisme, & Hal-hal yang Belum Selesai

Sabtu, 23 April 2011

Mendalami Feature, Memulai Liputan Kembali


Dosa terbesar kita adalah membuat feature yang dangkal, hingga tidak mencukupi rasa penasaran pembaca.

SAAT SENGGANG, DISELA JEDA MENULIS SKRIPSI. Saya selalu menyempatkan diri untuk melakukan verifikasi tulisan kawan-kawan KREATIS. Semua saya baca detil, mulai dari gaya bahasa, karakter penyajian, plot, ritme, emosi, pembabakan, hingga titik dan koma. Tetapi, ketika saya membaca tulisan yang panjang itu, saya mulang rabun. Kemana arah yang ingin difokuskan, seperti sulit melihat benang merahnya. Hampir saja saya lengah untuk melakukan pertanyaan menusuk pada setiap feature. Apa inti yang ingin dibahas dari isi feature ini ?

Padahal sesuatu yang lebih penting dari penyajian adalah aspek substansi yang jarang sekali dipertanyakan selama ini. Dari seluruh proses KREATIS, semua yang mengeluh perihal kesulitan adalah “Bagaimana menulis dengan karakter alur yang panjang ?”. kemudian “Bagaimana membuat kalimat sastrawi ?”. Bukan terlebih dahulu melakukan cek & ricek terhadap seluruh data yang terkumpul dari reportase di lapangan. Apakah sudah menjawab hipotesis awal ? atau tentang kenyataan di lapangan yang berubah sehingga harus menggeser taksiran awalnya. Menjadi seperti apa ? dan bagaimana menyiasati semua ?

Feature yang saya minta memang harus memiliki alur yang panjang. Mencapai 20.000 karakter. Tapi bukan berarti feature yang panjang membuka peluang semakin lebar untuk kabur dari fokus inti tulisan. Atau barangkali menyajikan hal yang tidak penting. Apalagi penyajiannya bertele-tele dan membosankan. Sungguh saya bertanya-tanya. Apa gerangan yang membuat feature menjadi sedemikian rupa ? atau hanya sekedar kejar tayang ? asal kumpul, sementara kualitas jadi urutan terkahir.

Seharusnya feature dibahas mendalam. Kental dengan narasi (bukan fiksi). Imajinasi harus didasari dari fakta, tidak mengada-ada, juga bukan karangan. Setiap kalimatnya harus mengandung emosi yang menyentuh. Serta hidup dalam bayangan pembaca. Tolak ukurnya adalah membuka seluas mungkin bagi fakta yang berkaitan dengan satu ide yang menjadi target di setiap paragraf. Fakta itu kemudian dijadikan bahan siap saji untuk melakukan narasi secara detil. Asalkan ada bahan, saya yakin semua dari kita bisa bernarasi dengan mudah.

Hal yang menjadi masalah kemudian adalah ketika kalian kekurangan bahan. Kemungkinan penyebabnya hanya dua. Pertama, kita kurang teliti ketika sedang reportase. Kemungkinan ini biasanya karena kelengahan penulis. Ceroboh. Tidak peka terhadap lingkungan. Kurang jeli melihat bahan untuk ditulis. Kedua, tidak mempersiapkan apa yang mau dicari. Ini adalah penyebab fatal. Karena hakikatnya ketika penulis mengalami ini. Ia tidak sedang benar-benar sadar. Kita harus segera mencubit pipi kanan dan kirinya agar kembali sadar. Biasanya jenis orang begini lebih suka reportase karena inging jalan-jalan ketimbang menggali bahan-bahan.

   
SAAT SAYA BELAJAR JURNALISME PADA WARTAWAN TEMPO. Pada acara Journalist Day 2011 di Universitas Indonesia, mungkin saya adalah orang paling cerewet bertanya perihal banyak masalah yang dihadapi pada proses reportase. Hal itu saya lakukan untuk memperjelas hal yang selama ini jadi kendala dari pengalaman di KREATIS. Intinya, dari semua pertanyaan dan jawaban mereka saya simpulkan bahwa reportase itu tidak butuh banyak teori. Hanya memerlukan seorang penulis yang sigap menyiasati masalah jadi kesempatan, merubah desakan jadi peluang. Membuat alasan dengan argumen kuat. Sehingga gerak seorang penulis sulit ditepis oleh rintangan apapun.

Perlu orang yang kreatif, dan tidak mudah patah dengan sedikit kesulitan. Disamping itu, proses reportase juga butuh ketekukan dalam mengumpulkan fakta dan data. Jika hal itu tidak dilakukan, pupus. Semisal dari kasus beberapa orang terdahulu yang angkat tangan menjalani proses KREATIS. Pada akhirnya, tidak mendapatkan apa-apa. Selain lelah. Padahal jika setiap prosesnya kita jalani dengan keinginan untuk belajar. Maka kita akan membentuk karakter diri kita sendiri sebagai pribadi tahan banting. Ini penting, karena saripati hidup adalah bagaimana kita menyiasati masalah sebagai jalan keluar dari satu fase ke fase berikutnya. Sebagai wujud dari self reflection bahwa kita masih mempunyai ketahanan.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa reportase menjadi penting ?  jika kita membaca feature, lantas isinya kurang padat (istilah isinya kurang padat itu bermakna tidak mendalam). Atau kurang fakta dan data. Apa yang salah ? proses menulis atau proses reportasenya ? jika diulur dari proses awal hingga sekarang, maka dapat kita jawab, ada yang kurang dari proses reportasenya. Dengan alasan itu pembenahan harus kita mulai juga dari proses reportase. Agar tidak salah untuk yang kedua kali, harus ada perumusan strategi yang matang.  Reportase menjadi koreksi paling utama.

Dalam reportase, seseorang dituntut untuk menggunakan seluruh kemampuan. Kognitif untuk berpikir substansi materi, isi pembicaraan nara sumber, menyiapkan bahan awal, dan harus banyak membaca. Emosi sebagai pembawaan jiwa, saat reportase biasanya orang harus lebih mempertimbangkan aspek ini. Bagaimana ia membawa setiap delik perbincangan menjadi cair. Seorang juga harus mendalami ilmu kejiwaan. Terkesan enteng, tapi jika dipraktekkan akan sedikit sulit. Dan sekali lagi jangan memulai pembicaraan jika lawan bicara kita belum nyaman dan percaya pada diri kita. Ada baiknya anda memperkenalkan diri dan maksud. Itu akan membuat lawan bicara kita nyaman.

Jenis liputan kita adalah in- deep reporting yaitu liputan yang mendalam, jadi prosesnya harus dapat menjadi luaran yang menjelaskan segala aspek tentang fokus dan angle. Jenis pertanyaan yang dipakai untuk analisis biasanya adalah pertanyaan terbuka “bagaimana” dan “mengapa”, sehingga ketika tulisan itu dibaca dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi pembaca. Sebagai tolak ukur, seberapa jauh kita membahas suatu topik ? adalah dengan melakukan pembedahan atau verifikasi pada data dan fakta. Jika dinilai tidak cukup berarti harus dicari kelemahannya. Kembali mengulur proses.

SAYA BERBICARA DENGAN ANDREAS HARSONO PERIHAL JURNALISME RISET, dia kemudian menjelaskan sebenarnya itu sudah satu paket dengan rangkaian proses jika jurnalisme saat ini jika seorang wartawan membahas suatu topik secara mendalam. Sayangnya praktek jurnalisme itu sendiri saat ini masih terkesan dangkal dalam menjabarkan suatu topik. Lebih bersifat mengejar rasa penasaran, namun tidak menjawab rasa penasaran itu sendiri. untuk mempersiapkan suatu naskah siap disajikan menjadi tulisan feature harus memiliki standar tertentu. Maka kata kunci itu yang kemudian harus kita bahas kali ini. Pendalaman liputan.

Sementara untuk penulisan feature, saya bisa memperhatikan 3 hal fundamental yaitu: focus, angle, dan outline. Fokus adalah titik perhatian dari naskah itu. Ia berupa sebuah pertanyaan, lagi-lagi tidak meleset dari unsur-unsur 5 W 1H. Jika dimasukkan dalam kasus contohnya “apa yang terjadi di sungai pasanggrahan di tahun 2009 ?”. dalam pertanyaan itu yang menjadi fokus adalah sungai pasanggrahan. Dalam liputan kalian, yang menjadi fokus adalah landmark kota Jakarta. Fokus juga bisa dikatakan spesifikasi, karena dalam sifatnya sudah terdapat pengarahan ke satu sisi menuju angle.

Angle adalah titik masuk. Anda harus mencari sesuatu yang segar, yang belum dikerjakan orang lain, untuk masuk dalam feature penting memperhatikan angle karena pembeda akan menjadi ciri khas. Budaya di redaksi TEMPO selalu membuat istilah “ekslusif” dalam mengambil angle, yang menjadi perhatian adalah menjadi yang pertama sebelum media lain membahas. Kalau perlu menjadi pelopor untuk menggerakkan perhatian masyarakat serta petinggi negeri untuk melakukan perubahan fundamental.

Outline adalah kerangka karangan. Dibuat setahap demi setahap ketika kita melakukan lilputan, ataupun setelah data dan fakta terkumpul. Dalam dunia jurnalisme, ada adagium “jika ingin selamat buatlah outline”. Artinya, sebelum menulis, aspek yang tidak boleh tertinggal adalah outline. Adapun nanti terjadi perubahan, segera menginduk pada dasar outline. Lihat kembali, periksa dengan seksama, koreksi dengan teliti. Dengan begitu, semua proses akan anda jalani dengan sehat. Hasilnya pun maksimal.

Alinea awal suatu feature juga tidak sepadat penulisan esai dan berita. Piramida terbalik. Alinea pembuka feature selalu diawali dengan hal yang sangat sederhana. Bisa suatu peristiwa, bisa tanggal dan hari, bisa juga tempat, bisa saat acara, bisa kelakuan seseorang, atau bisa juga menyengat seperti konflik. Feature kuat di narasi, jika anda tidak terbiasa menulis narasi kemudian menulis feature, anda akan mengalami kesulitan. Maka banyaklah membaca sastra cerpen dan novel, ini akan sangat membantu. 

Resep yang saya dapat dari Andreas Harsono dalam membuat narasi dengan naskah panjang adalah menggunakan 5W 1H, pengembangan akan menjadi pedoman sebagai berikut “who” berubah jadi siapa, “what” menjadi plot atau alur narasi, “where” berubah menjadi setting, “when” menjadi kronologi, “why” menjadi motif, dan “how” menjadi narasi. Dengan rumusan itu, cobalah memperbaiki liputan anda kembali. Jika tidak mengandung unsur itu, sadarlah bahwa anda telah kesasar.
continue reading Mendalami Feature, Memulai Liputan Kembali

Senin, 11 Mei 2009

Jurnalisme Ilmiah


Prolog ringkas tentang jurnalistik ilmiah cukup diwakili bahwa ini adalah suatu hal yang baru, bahkan satu-satunya di Indonesia. Karena setelah saya cek ulang dari beberapa literatur buku dan dunia virtual memang belum ada definisi secara khusus mengenai tema diatas. Saya baru diilhami saat melakukan perenungan setelah mempelajari mitologi ilmiah dan materi jurnalistik secara terpisah dengan konsep hibridasi cultural studies.

Ternyata keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ibarat menimbang sesuatu, hal yang perlu diperhatikan adalah takaran yang diasimilasikan dengan kontens. Dalam mitologi ilmiah, gagasan dikemas amat struktural, bahkan dilarang keras untuk melanggar aturan main sistematika penulisan baku. Setiap delik plotnya sudah diatur dan ditetapkan sebagai kaidah umum.

Belum lagi, dialektika intelektual di ruang penalaran ilmiah yang sedikit kaku, sakral dengan sistematika yang memenjara alternatif lain diluar mazhab ilmiah struktural, bahkan sesekali menimbulkan efek jenuh bagi setiap penganut dan pembacanya. Walaupun selentingan tersebut tidak sepenuhnya benar, ada sedikit ilham yang dapat diambil terkait mitologi ilmiah dan alternatif dalam merespon paradigma tersebut dengan dinamis, luwes, dan efektif.

Hal lain yang fundamental dalam kaitannya dengan hibridasi ranah ilmiah dan jurnalistik adalah aspek praksis. Belum terdapat suatu mekanisme tentang disiplin ilmu teknis lapangan pada mitologi ilmiah. Contohnya, dalam bab metodologi penulisan, pokok bahasannya meliputi Metode Penulisan (pengolahan data dan sumber), tempat pelaksanaan, dan waktu penulisan. Sementara, bagaimana caranya belum dibahas secara spesifik oleh mitologi ilmiah. Contoh, teknik observasi, teknik investigasi, dan analisis sosio-ekologis objek penelitian.

Sementara dunia jurnalistik memberikan rangkaian pelengkap dalam menjawab kekurangan tersebut. Teknik wawancara untuk observasi lapangan, investigasi untuk pendalaman masalah pada objek penelitian, teknik pengembangan dan pendalaman isu untuk merangkai gagasan dalam pembahasan, dan teknik reportase untuk menunjang analisis sosio-ekologis objek penelitian. Disamping itu, jurnalistik juga berguna dalam membantu mencarikan informasi tentang isu yang sedang berkembang.  

Catatan penting lainnya bahwa setiap ide dan gagasan yang menilik suatu permasalahan untuk dilerai secara lebih menarik dan efektif agar masuk dalam peminatan pembaca. Hal tersebut penting, karena transfer gagasan meliputi paradigma yang membentuk harus mempertimbangkan keseluhan ide dikemas secara utuh dan tidak menjenuhkan. Bahasa jurnalistik biasanya sedikit lugas, variatif, dan sedikit provokatif. Dengan begitu muatan ilmiah yang dikemas dalam bahasa jurnalistik dapat lebih diterima masyarakat umumnya.

Dari beberapa argumentasi tadi, saya merumuskan sebuah hibridasi konseptual lintas dimensi antara jurnalistik dengan mitologi ilmiah, maksudnya ada proses penciptaan atau replikasi bentuk mutan lewat perkawinan silang yang menghasilkan entitas campuran, tidak lagi utuh dan kemudian membentuk wujud baru. Tetapi tetap menyisakan sebagian identitas diri dari dua unsur yang dikawin-silangkan. Hal itu bernama jurnalistik ilmiah.

LKM Dan Peralihan Dinamis


Semenjak didirikan, LKM mengalami berbagai perubahan. Diskusi menjadi kajian, penulisan meluas dalam beragam bentuk (fiksi dan non fiksi), retorika menjadi public speaking. Artinya kita sadar bahwa peralihan adalah sebuah keharusan untuk menjunjung perubahan yang dinamis. Agar tidak punah kemakan orientasi zaman, lebih adaptif melawan persaingan, dan menjadi asa bagi kemajuan masa depan.

Tidak ada salahnya saya menyarankan untuk menjamah bentuk baru ke ranah jurnalistik ilmiah dari tahun ini kedepan. Bentuk konkretnya adalah jurnal ilmiah yang bercermin pada balairung UGM. Beberapa alasan lain yang mungkin dapat menjadi pertimbangan. Pertama, secara tidak langsung kegiatan umum LKM bersinggungan dengan ranah jurnalistik, contohnya KREATIS dengan investigasinya, Public Speaking dengan Teknik Reportasenya, dan kajian dengan bahasan isu yang aktual media masa.

Kedua, khususnya dalam konotasi penulisan mencakup ranah yang cukup luas dan etis untuk dikaitkan dengan dunia jurnalistik. Kita terlalu sempit memaknai dunia dengan paradigma yang biasanya  ada, jarang melihat jauh keluar konteks (out of the box). Penulisan bukan hanya esai dan karya tulis (non fiksi), tapi luas seperti tajuk, berita, resensi, dan feature. Sementara untuk fiksi diantaranya cerpen, novel, dan puisi.

Jurnalistik ilmiah mengarahkan konsistensi LKM dimasa depan, sebagai organisasi yang harus tetap hidup dengan kualitas tinggi. Kajian kita seringkali menguap tanpa wujud, sehingga tidak ada jejak sejarah masa depan untuk direfleksikan. Dengan begitu dianggap perlu menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah media alternatif, dengan mengagas jurnal LKM yang memuat ilmu pengetahuan sebagai kekuatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat seperti diungkan oleh Francis Bacon.

Tantangan Informasi


Selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah penguatan internal terkait masalah kecemasan informasi pada LKM sendiri. Sebab, cerminan Jurnal Balairung UGM dapat dikatakan mumpuni dari segi kualitas. Mereka dapat merubah wacana menjadi wawasan. Dapatkah kita bersaing dan kemudian mengungguli ranah pemikiran konco-konco balairung UGM. Tergantung kerja keras kita berusaha.

Menurut Alwin Dahlan, kecemasan informasi merupakan sikap pasif dari tantangan perubahan yang dinamis. Bentuk konkretnya dapat berupa. Pertama, sikap ketidakberdayaan menghadapi informasi, hal ini diakibatkan oleh lemahnya analisis, bingung menghadapi serangan informasi yang bertubi sehingga sulit mencari prioritas yang akhirnya tidak berbuat apa-apa, atau kurang wawasan sehinga sulit melakukan sistesis lintas diskursus. Kedua, kecemasan akan kekurangan informasi. Hal ini berkaitan dengan sumbe-sumber informasi, jauhnya kita mempengaruhi daya kritis.

Ketiga, kekurangan tentang makna dan nilai informasi. Pandangan yang sempit tengang arti sebuah fenomenologis seringkali berbenturan dengan paradigma umum, akhirnya substansi ideal tidak telihat begitu jelas, dalam arti takut berbeda karena tabu dengan nilai dan norma seharusnya. Keempat, kecemasan terhadap teknologi informasi, hal ini berkaitan dengan penggunaan sarana informasi virtual. Channel pendukung dan komunitas pengetahuan. 

Terakhir, dalam konsepsi optimistis, bila fakta adalah pernyataan. Maka yang dimaksud dengan penjelasan fakta adalah makna pernyataan yang mengarah pada kesiapan kita melawan tantangan informasi, merobek kecemasan dan mengubahnya menjadi kerja keras. Semoga faktanya menjadi suksesi bersama. Membuat jurnal mahasiswa ala LKM UNJ dengan kekhasan alitik ilmiahnya.    
continue reading Jurnalisme Ilmiah